24 Mei 2022

PEKAN VI PASKAH – SELASA


Kristus adalah ikatan kesatuan
Pembacaan dari uraian Santo Sirilus dari Aleksandria* tentang Injil Santo Yohanes:

 

Kita dapat belajar dari kata-kata Santo Paulus tentang rahasia agama, bahwa mereka yang ikut ambil bagian dalam daging Kristus yang terberkati, juga mencapai kesatuan, yang saya maksud kesatuan tubuh, yang juga kesatuan dengan Kristus: “…rahasia, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus; yaitu, bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena berita Injil, turut menjadi ahli waris dan anggota tubuh yang sama, dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.”  Jadi kita semua yang satu dengan yang lain anggota dari tubuh yang sama dalam Kristus, dan tidak hanya yang satu dengan yang lain, tetapi niscaya juga bersama dengan Dia, sebab Ia ada dalam diri kita dengan daging-Nya sendiri.

Tetapi mengapa kesatuan kita yang satu sama dengan yang lain dan dengan Kristus tidak nampak lebih nyata?  Sebab Kristus adalah ikatan, yang mempersatukan kita, karena Ia Allah dan manusia.  Sehubungan dengan kesatuan kita dalam Roh, saya ingin mengikuti jalan pemikiran yang sama, dan sekali lagi mulai dengan mengatakan, bahwa kita semua menerima Roh yang satu dan sama, yaitu Roh Kudus.  Dengan demikian dalam suatu arti kita ini tercampur yang satu dengan yang lain, dan dengan Tuhan.  Sebab meskipun secara perorangan kita itu banyak, namun dalam setiap dari kita bersemayamlah Roh Bapa, yang juga Roh Kristus, dan Roh ini adalah satu dan tidak terbagikan.

Sesuai dengan cara yang khusus ada pada-Nya, Ia dengan daya kekuatan-Nya menghimpun semua Roh, yang terputus hubungannya dari kesatuan bersama, menjadi satu kesatuan, dan didalam diri-Nya dibuat semua manusia nampak menjadi satu lagi.  Sebab tepat seperti kuasa daging yang terberkati mempersatukan semua, yang menerimanya, dalam satu tubuh, demikian juga saya yakin bahwa Roh Kudus tidak terbagi-bagi di antara orang-orang, dimana Ia datang untuk bersemayam, tetapi Ia menghimpun semua orang dalam kesatuan rohani.

Maka Santo Paulus sekali lagi menyampaikan kata-kata ini kepada kita, “Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu.  Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai; satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu harapan yang terkandung dalam panggilanmu: satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua, dan mengatasi semua dan di dalam semua.”  Sebab karena Roh diam di dalam kita, Bapa yang satu bagi semua akan ada di dalam kita sebagai Allah kita, menghimpun semua yang ikut serta dalam Roh, dipersatukan dengan perantaraan Putra-Nya, yang satu dengan yang lain dan bersama dengan Dia.

Suatu pemikiran lain dapat membantu kita untuk menyatakan, bahwa kita bersatu karena diikutsertakan dalam Roh Kudus.  Kita menyisihkan cara hidup kodrati, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada hukum Roh.  Di situ sudah menjadi barang tentu, bahwa dengan mengingkari hidup kita sendiri, dan mengambil bentuk surgawi dari Roh Kudus, Ia menjadi terjalin dalam diri pribadi kita; kita boleh dikatakan telah diubah menjadi kodrat lain.  Kita tidak lagi manusia saja, tetapi anak-anak Allah; kita menerima nama manusia surgawi, karena kita ikut menjadi pewaris kodrat ilahi.  Maka dari itu kita semua bersatu dalam Bapa dan Putra dan Roh Kudus.  Satu dalam kesatuan hubungan, satu dalam kesamaan, yang diungkapkan dalam kebaktian, dan satu dalam menyambut daging Kristus tersuci dan ambil bagian dalam Roh yang satu.

 


* Tahun 380-444; Uskup, ahli teologi yang masyhur; gigih memerangi bidaah; pembela gelar Maria Bunda Tuhan pada Konsili Efesus (431).