27 Mei 2022

PEKAN VI PASKAH – JUMAT


Kenaikan Tuhan mengangkat iman kita
Pembacaan dari kumpulan kotbah Paus Leo Agung* tentang Kenaikan

 

Kebangkitan Tuhan melimpahi kita dengan sukacita pada hari Paskah; demikian juga kenaikan-Nya ke surga membawa kegembiraan bagi kita sekarang.  Kini kita memperingati dan merayakan hari, di mana kodrat rendah kita diangkat dalam Kristus mengatasi semua barisan surga, mengatasi semua rombongan malaikat, mengatasi ketinggian semua kuasa surgawi, sampai pada takhta Bapa di surga.  Kini ini dibangun berdasarkan perbuatan-perbuatan Tuhan berturut-turut, hingga keajaiban rahmat Tuhan nampak lebih besar lagi; sebab, meskipun segala hal yang kelihatan mendorong kita untuk menyatakan hormat selayaknya, sudah dilenyapkan dari pandangan kita, namun iman kita tetap teguh, harapan kita kuat, dan cinta kita hangat.

Inilah kekuatan yang diberikan kepada jiwa-jiwa besar, inilah terang bagi jiwa-jiwa yang sungguh setia, bahwa mereka dapat percaya tanpa ragu akan apa yang tidak dapat mereka lihat dengan mata tubuh, dan dapat mengarahkan dambaannya lebih jauh daripada pandangan mata.  Bagaimana rasa bakti dapat timbul di dalam hati, bagaimana orang dapat dibenarkan oleh iman, seandainya penyelamatan kita hanya terletak pada perkara-perkara, yang dapat dilihat saja?

Kehadiran Penebus kita yang nampak di mata sekarang pindah pada sakramen-sakramen.  Dan agar iman menjadi lebih tinggi dan lebih kuat, maka tidak lagi didasarkan pada penglihatan, melainkan pada ajaran.  Hati mereka yang percaya mengikuti ajaran ini karena terang, yang datang dari atas.  Iman ini, dikembangkan dengan kenaikan Tuhan dan dikuatkan oleh kurnia Roh Kudus, tidak dapat dipatahkan oleh belenggu, penjara, pembuangan, lapar, api, kuku binatang buas, atau penganiayaan bengis licik para pengejar Gereja.  Di seluruh dunia tidak hanya pria, tetapi juga wanita, anak muda dan gadis lembut berjuang membela iman, sampai pada penumpahan darah.  Iman ini mengusir setan, menyembuhkan penyakit, membangkitkan orang mati.

Para Rasul sendiri, meskipun pada banyak kesempatan telah dikuatkan oleh mujizat-mujizat Tuhan dan diajarkan dengan sabda-Nya, namun masih gentar menghadapi kedasyatan penderitaan-Nya, dan hanya dengan ragu akhirnya menerima kenyataan kebangkitan-Nya. tetapi kenaikan-Nya mengakibatkan perubahan begitu besar pada mereka, hingga yang sebelumnya merupakan sumber ketakutan, kini merupakan sumber kegembiraan bagi mereka.  Mereka memusatkan pikiran mereka pada keallahan Kristus, yang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya.  Penglihatan mata tidak lagi menghambat pandangan budi mereka, yang mengakui kenyataan ini; bahwa Putra turun dari Bapa tanpa meninggalkan Dia, dan naik dari kalangan para murid, tanpa pergi dari mereka.  Sebab Putra Manusia, saudara-saudara terkasih, diwahyukan secara lebih sempurna dan lebih resmi sebagai Putra Allah, setelah Ia kembali dalam kemuliaan kuasa Allah.  Dan dengan cara yang gaib Ia mulai hadir lebih dekat pada mereka dengan keallahan-Nya, ketika Ia menjadi lebih jauh dalam kemanusiaan-Nya.

Iman mendapatkan pengertian yang lebih dalam dan dengan loncatan pikiran mulai menjangkau sampai pada Putra sebagai sejajar dengan Bapa.  Iman tidak memerlukan hubungan dengan unsur tubuh pada Kristus, di mana Ia lebih rendah daripada Bapa.  Sebab meskipun tubuh yang dimuliakan masih tetap tubuh, namun iman orang percaya kini ditarik dengan pengertian roh, untuk menyentuh pada Sang Putra Tunggal, yang sejajar dengan Bapa-Nya.

 


* Paus dan Pujangga Gereja (†461).  Penjaga kesatuan umat dalam satu iman yang benar, teladan para gembala, penuh semangat, berhati lapang, berpendirian teguh.