28 Mei 2022

PEKAN VI PASKAH – SABTU


Dua kehidupan
Pembacaan dari kumpulan homili Santo Agustinus* tentang Injil Santo Yohanes

 

Gereja mengenal dua kehidupan yang dipercayakan dan dianjurkan kepadanya oleh Allah.  Yang satu dalam iman, yang lain dalam penglihatan; yang satu dijalani sambil berziarah dalam kurun waktu, yang lain di dalam kediaman abadi; yang satu membawa jerih payah, yang lain istirahat; yang satu membawa kerja, yang lain membalas jasa; yang satu hidup dalam aksi, yang lain hidup dalam kontemplasi.

Rasul Petrus mengokohkan kehidupan yang pertama, Yohanes yang kedua, sampai akhir jaman ini dan berakhir habis di dunia yang akan datang.  Kehidupan yang kedua di zaman yang akan datang tidak ada akhirnya, dan kesempurnaannya ditangguhkan sampai berakhirnya jaman sekarang.  Maka pada Petrus dikatakan, “Ikutilah Aku”, sedangkan tentang Yohanes disebutkan, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”  Engkau harus ikut Aku dengan mengikuti teladan-Ku menderita untuk sementara waktu: ia harus tinggal sampai Aku datang membawa berkat kurnia yang berlangsung untuk selama-lamanya.  Untuk lebih tepat menjelaskan intinya: aksi, untuk jadi sempurna, harus mengikuti Aku, dibentuk oleh contoh penderitaan-Ku; kontemplasi, baru dimulai, harus tinggal sampai Aku datang untuk disempurnakan jikalau Aku datang. Mengikuti Kristus dengan setia bahkan sampai mati, itu ketahanan yang penuh; pengetahuan yang penuh, tinggal sampai Kristus datang, jikalau nanti diwahyukan sepenuhnya.  Di sini penderitaan dunia ini ditanggung di tanah maut; di sana berkat kurnia Tuhan akan dilihat di tanah kehidupan.

Kata-kata: “Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang”, tidak boleh diartikan “ ditinggalkan” atau “hidup terus”, tetapi “menunggu.”  Sebab kenyataan, yang dilambangkan oleh Yohanes tidak akan dipenuhi sekarang, tetapi hanya kalau Kristus datang.  Tetapi kenyataan yang dilambangkan oleh Petrus, yang menerima perkataan Yesus: “Engkau, ikutlah Aku”, harus dilaksanakan sekarang, jika orang ingin mencapai kepenuhan yang diharapkan.  Tetapi kita tidak boleh memisahkan kedua rasul Agung ini.  Kenyataan, yang dilambangkan oleh Petrus, sudah dimiliki kedua-duanya. Kenyataan, yang dilambangkan oleh Yohanes, kedua-duanya, ditentukan akan memiliki juga.  Dalam lambang, Petrus ikut, Yohanes tinggal; tetapi dalam iman kedua-duanya menunggu berkat mendatang dalam hidup bergembira di kemudian hari.

Tidak hanya untuk para rasul hal ini nyata, hal itu nyata juga bagi seluruh Gereja.  Mempelai Kristus tersuci, yang harus dibebaskan dari pencobaan hidup sekarang dan diselamatkan dalam sukacita mendatang.  Petrus dan Yohanes berurutan mewakili dua kehidupan ini; tetapi bersama-sama mereka sementara waktu menjalani kehidupan pertama dalam iman, dan keduanya akan menikmati kehidupan kedua yang abadi dalam penglihatan.  Maka demi kepentingan seluruh umat beriman, yang tak terpisahkan dari tubuh Kristus, untuk mengarahkan mereka melewati taufan hidup ini, Petrus, yang pertama dari para rasul, menerima kunci kerajaan surga dengan kuasa untuk mengikat dan melepaskan dosa; dan demikian juga, demi kepentingan umat beriman, untuk menyimpan hati damai dalam rahasia hidup mendatang, Yohanes Penginjil istirahat pada dada Kristus.  Sebab bukannya Petrus saja, melainkan seluruh Gereja, mengikat dan melepaskan dosa; dan bukan Yohanes saja dari sumber hati Tuhan minum pengertian akan Sabda, yang semula adalah Allah dan bersama Allah, dan semua hal lainnya sehubungan dengan keallahan Kristus.  Pengetahuan tinggi, yang dinyatakan oleh Yohanes mengenai Tritunggal dan kesatuan seluruh keallahan, ini juga akan kita lihat dalam kerajaan-Nya dari muka ke muka; tetapi sekarang, sampai kedatangan Tuhan harus kita lihat dalam cermin samar-samar.  Bukan Yohanes saja yang minum: Tuhan sendiri menyebar Injil ke seluruh dunia, sehingga menurut kemampuan masing-masing seluruh umat-Nya dapat minum dari pada-Nya.

 


* Tahun 354 – 430.  Uskup Hippo (Afrika Utara) dan pujangga Gereja.  Karya masyhurnya: “Pengakuan” dan “Kota Tuhan”