30 Mei 2022

PEKAN VII PASKAH – SENIN


Air hidup Roh Kudus
Pembacaan dari pelajaran Santo Sirilus dari Yerusalem* kepada para calon baptis

 

“Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”  Ini semacam air baru yang hidup menyembul, membual untuk mereka yang layak menerimanya.  Mengapa ia menyebut rahmat Roh itu air?  Sebab segala sesuatu tergantung dari air.  Air menumbuhkan rumput dan makhluk-makhluk hidup.  Air turun dari langit sebagai hujan: air selalu turun dalam bentuk yang sama, tetapi akibatnya berbeda-beda mengambil satu bentuk pada pohon palma, bentuk lain pada pokok anggur; air ada di dalam segala, dan mengambil segala macam bentuk; tetapi tetap sama, dan selalu tinggal sama.  Sebab hujan tidak berubah, sekali turun dengan bentuk ini, lain kali dengan bentuk lain, tetapi ia menyesuaikan diri dengan kodrat masing-masing yang menerimanya, dan menjadi apa yang sesuai bagi masing-masing.

Demikian juga Roh Kudus. Ia itu satu dan kodrat-Nya adalah satu dan tak terbagi, tetapi Ia memberikan rahmat-Nya kepada setiap orang menurut kehendak-Nya.  Kalau pohon kering diberi air, ia bertunas.  Begitu pula jiwa di dalam dosa: kalau dengan laku tapa ia menjadi pantas untuk menerima rahmat Roh kudus, ia kemudian menghasilkan buah kebenaran.  Meskipun Roh itu dasarnya satu, namun oleh kehendak Tuhan dan atas nama Kristus ia menghasilkan berbagai buah keutamaan.  Ia menggunakan lidah seseorang untuk mengucapkan kebijaksanaan, menerangi jiwa orang lain untuk bernubuat; orang lain diberi kuasa untuk mengusir setan, orang lain lagi diberi kurnia untuk menafsirkan Kitab Suci; seorang dikuatkan untuk penguasaan diri, orang lain diajar makna pembagian derma, orang lain lagi diajar untuk berpuasa dan bermati raga, orang lainnya lagi untuk meremehkan barang-barang duniawi, seorang lain lagi dipersiapkan untuk menjadi martir.  Ia sendiri tetap tak berubah, seperti tertulis: “Pada setiap orang diberikan pernyataan Roh demi kepentingan bersama.”

Pendekatan-Nya lembut, kehadiran-Nya harum, beban-Nya ringan amat; cahaya terang dan pengetahuan bersinar di hadapan-Nya, jika Ia datang untuk menyelamatkan, menyembuhkan, untuk mengajar, untuk menegur, menguatkan, menghibur, untuk menerangi budi, pertama-tama orang yang menerima Dia, dan lewat orang itu juga budi orang lainnya.  Seperti orang yang ada di dalam kegelapan sebelumnya, segera setelah melihat matahari, dapat melihat, dan jelas melihatnya apa yang sebelumnya tidak dapat dilihat, demikian juga orang yang ternyata pantas menerima Roh Kudus, diterangi jiwanya dan melihat melampaui kekuatan penglihatan manusia, apa yang sebelumnya tidak diketahui.

 


* Tahun 315 – 386. Uskup Yerusalem, pengajar ulung tentang misteri-misteri agama; pelindung para katekis.