1 Juni 2022

Peringatan Santo Yustinus


Aku telah menerima ajaran orang kristiani
Pembacaan dari kisah kemartiran Santo Yustinus* dan kawan-kawannya

 

Setelah para suci ditangkap, mereka dibawa menghadap gubernur Romawi, yang bernama Rustikus.  Ketika mereka sudah dibawa ke pengadilan, Gubernur Rustikus berkata kepada Yustinus, “Percayalah kepada para dewa melebihi segalanya, dan taatlah kepada para penguasa.”  Yustinus menjawab, “Kami tidak dapat dipersalahkan dan dihukum karena taat kepada perintah-perintah Penyelamat kami Yesus Kristus.”  “Kamu berpegang pada ajaran apa?”, tanya Rustikus.  Yustinus menjawab, “Aku berusaha mengenal semua ajaran yang ada, tetapi yang kupakai ajaran yang nyata, ajaran orang kristiani, meskipun ini tidak dapat diterima oleh orang yang mengikuti ajaran sesat.”  Gubernur lalu berkata, “Jadi itu ajaran yang kamu ikuti, penjahat?”  Ini dijawab oleh Yustinus, “Ya, saya mengikutinya menurut garis iman yang benar.”

Gubernur bertanya, “Apa arti garis iman itu?” Dan Yustinus menjawab, “Itulah yang kami akui mengenai Allah orang kristiani, yang kami percaya sejak semula adalah satu-satunya Pencipta yang menjadikan seluruh ciptaan, yang kelihatan dan tidak kelihatan; dan mengenai Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, yang kedatangan-Nya di antara manusia telah diramalkan oleh para nabi sebagai pembawa keselamatan dan guru para murid-Nya yang bahagia.  Aku menyadari, bahwa aku ini hanya manusia belaka dan bahwa yang kukatakan ini tidak mempunyai arti dibandingkan dengan keagungan Tuhan yang tak terhingga; tetapi aku mengakui kekuatan nubuatan dalam hal yang kunyatakan, karena yang diramalkannya ialah kedatangan Dia, yang kusebut Putra Allah.  Dan aku tahu, bahwa para nabi dari masa dulu meramalkan kedatangan-Nya di antara manusia.”  Di sini Rustikus menyela, “Jadi kamu itu orang kristen?”  Yustinus menjawab, “Ya, saya ini seorang kristen.”

Lalu gubernur berkata kepada Yustinus, “Sekarang dengarkanlah aku. Kamu itu dikatakan orang terpelajar dan kamu berpikir, tahu mana ajaran yang benar. Kalau kamu didera dan dibunuh, apakah kamu percaya bahwa kamu akan ke surga?”  Yustinus menjawab, “Aku berharap akan menerima kurnia Tuhan, kalau aku menerima penderitaan ini.  Sebab aku tahu, bahwa barangsiapa hidup dengan baik, ia boleh mengharapkan rahmat Tuhan, yang disediakan bagi mereka sampai akhir jaman.”  Gubernur berkata, “Jadi kamu mengira, bahwa kamu akan ke surga dan menerima upah selayaknya?” Ini dijawab oleh Yustinus, “Ini bukan soal mengira. Aku tahu, aku pasti tentang itu.”

Rustikus berkata, “Marilah sekarang kita kembali kepada pokok perkara, apa yang harus kamu lakukan. Kamu harus berkorban kepada para dewa bersama-sama.”  Yustinus menjawab, “Tidak ada orang berakal sehat akan meninggalkan penyembahan Allah yang benar dan menyembah dewa-dewa palsu.”  Gubernur menegaskan, “Kalau kamu tidak melakukan, apa yang dikatakan kepadamu, kamu akan disiksa tanpa ampun.”  Yustinus menjawab, “Kami sudah berdoa, agar kami boleh menderita demi Tuhan kami Yesus Kristus dan demikian diselamatkan.  Ini akan memberi kepercayaan kepada kami dan menjamin keselamatan kami, kalau kami datang menghadap pengadilan Tuhan dan Penyelamat kami, yang menguasai pengadilan umum, lebih dahsyat daripada pengadilanmu.”  Dan para martir lainnya menyatakan hal yang sama, “Buatlah sekehendakmu dengan kami. Kami ini orang kristen, dan kami tidak berkorban kepada berhala.”

Lalu Gubernur menjatuhkan keputusan, “Orang-orang ini tidak mau berkorban kepada para dewa dan taat kepada perintah maharaja.  Hendaklah mereka dibawa pergi untuk didera dan kemudian dibunuh sesuai dengan hukum.”  Para martir suci pergi ke tempat yang biasa digunakan untuk hukuman mati sambil memuliakan Tuhan.  Di sana mereka dipenggal kepalanya dan demikian menerima mahkota kemartiran dengan menyatakan iman mereka kepada Penyelamat.

 


*Sebelum menjadi kristen, Yustinus seorang ahli filsafat yang tak kunjung puas akan ilmunya.  Atas nasehat seorang rahib, ia mempelajari wahyu para nabi dan Injil, sambil memohon terang Roh Kudus, dan akhirnya menemukan iman.  Berkat keahliannya dalam bidang filsafat, dengan cemerlang ia membela ajaran dan iman kristen terhadap serang para filsuf kafir.  Ia menulis berbagai buku pembelaan iman yang amat terkenal, di samping itu ia banyak mengadakan diskusi untuk meyakinkan orang-orang akan kebenaran iman kristen.  Karena kegiatan penginjilan ini, ia ditangkap dan dibunuh (165).