13 Juni 2022

Peringatan Santo Antonius dari Padua


Bahasa menjadi hidup, kalau berbicara lewat perbuatan
Pembacaan dari Kotbah Santo Antonius dari Padua

 

Orang yang hidup penuh Roh Kudus berbicara dalam berbagai macam bahasa.  Pelbagai macam bahasa ini adalah pelbagai macam cara memberi kesaksian tentang Kristus, seperti rendah hati, miskin, taat dan sabar.  Dengan demikian kita berbicara, kalau kita melakukan itu semua terhadap sesama.  Bahasa menjadi hidup, kalau berbicara lewat perbuatan.  Kata-kata sudah cukup, hendaklah sekarang perbuatan yang berbicara.  Kita ini limpah dengan kata-kata tetapi kosong dalam perbuatan.  Ini sebabnya kita kena kutukan Tuhan, yang mengutuk pohon ara, karena Ia tidak menemukan buah, melainkan hanya dedaunan saja.  Ini sudah menjadi hukum bagi pengkotbah, kata Santo Gregorius, bahwa ia harus melakukan apa yang diajarkan.  Tidak ada gunanya orang berbangga mahir hukum, kalau perbuatannya bertentangan dengan ajarannya.

Para Rasul, mereka berbicara seperti digerakkan oleh Roh Kudus.  Berbahagialah orang, yang berbicara di bawah ilham Roh Kudus, dan tidak menuruti hikmat roh manusia.  Ada orang yang berbicara mengikuti rohnya sendiri; mereka meminjam kata-kata orang lain, dan meneruskannya sebagai kata-katanya sendiri, dan menerima kehormatan untuk dirinya sendiri.  Menunjuk pada orang-orang ini dan kepada orang-orang lain seperti mereka ini, Tuhan bersabda dalam Kitab Yeremia: “Sesungguhnya, Aku menentang nabi-nabi yang mencuri sabda-Ku, yang satu dari yang lain.  Sesungguhnya, Aku menentang nabi-nabi, sabda Tuhan, yang menggunakan lidahnya dan berkata ‘Sabda Tuhan’.  Sesungguhnya, Aku menentang mereka yang bernubuat bohong membawakan impian, sabda Tuhan, mereka mengajar dan menyesatkan umat-Ku dengan kebohongan dan ketegaran hati mereka, karena Aku tidak mengutus dan tidak menugaskan mereka; mereka tidak menguntungkan bangsa ini sama sekali, sabda Tuhan.”

Marilah kita berbicara, seperti kita digerakkan oleh Roh Kudus.  Marilah kita mohon kepada-Nya dengan rasa sungguh dan rendah hati untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, hingga kita dapat menggenapi hari Pentakosta dengan penyempurnaan kelima indera kita, dan menepati sepuluh perintah Allah.  Marilah kita mohon rasa tobat mendalam, dan mohon lidah api menyala, untuk menyatakan iman yang benar.  Demikian kita diilhami dan diterangi oleh sinar cahaya para suci, hingga kita dapat dianggap pantas untuk memandang Tritunggal mulia, satu Allah.

 


*Tahun 1195-1231.  Pertama-tama ia masuk Serikat Agustinus di Koimbra, tetapi kemudian pindah ke Ordo Fransiskan karena ingin jadi misionaris di Afrika Utara.  Karena gangguan kesehatan, ia kembali ke Italia (Utara).  Di kawasan ini ia menjadi amat masyhur karena kotbah-kotbahnya yang sungguh menarik dan menggugah hati orang; bahkan mempertobatkan banyak orang murtad.  Ia sendiri menghayati apa yang diwartakannya.  Ia sering pula disebut sebagai ‘penemu barang-barang hilang’.  Mungkin ada benarnya juga; selama hidup ia kehilangan hidupnya sendiri, tak memperhitungkan dirinya dan semata-mata mencari Kerajaan Alaah demikian giatnya, sehingga meninggal pada usia cukup muda.