17 Juni 2022

PEKAN BIASA XI – JUMAT


Kita adalah anak-anak Allah;
marilah kita tetap tinggal dalam damai Allah
Pembacaan dari Uraian Santo Siprianus* tentang Doa Bapa Kami

 

Tuhan telah memberikan syarat-syarat pengampunan-Nya secara tegas dan jelas.  Ia mewajibkan kita mohon, agar kesalahan kita diampuni seukur dengan pengampunan kita terhadap mereka yang bersalah kepada kita.  Kita tahu, bahwa kita tidak akan menerima yang kita mohon bagi kesalahan kita, jika kita tidak berbuat demikian juga terhadap mereka yang bersalah kepada kita.  Sabda Tuhan di bagian lain dalam Kitab Suci: ‘ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.’  Hamba yang oleh tuannya dibebaskan dari hutangnya, dan kemudian tidak mau mengampuni sesama hamba, dimasukkan ke dalam penjara.  Karena ia menolak untuk bermurah hati terhadap kawannya, ia kehilangan pengampunan, yang telah diberikan kepadanya oleh tuannya.

Dalam ajaran-Nya Kristus menegaskan hal itu lebih kuat lagi, ketika Ia bersabda dengan kekuatan kuasa-Nya yang lebih besar, ‘Di saat kamu berdoa, ampunilah sesamamu, apabila kamu merasa ada sesuatu terhadap dia; maka Bapamu yang ada di surga mengampuni dosamu juga.’  Tidak akan ada lagi pembelaan bagimu pada hari pengadilan karena kamu nanti akan diadili menurut pengadilan yang kamu jatuhkan kepada orang lain, dan kamu akan diperlakukan seperti kamu memperlakukan orang lain.

Allah memerintahkan anak-anak-Nya untuk menjadi pembawa damai dan hidup sehati sebudi di dalam rumah-Nya; dan Ia menghendaki agar keadaan kita tetap seperti pada kelahiran kedua, yaitu manusia yang dilahirkan baru.  Kita ini anak-anak Allah, dan kita harus tetap bertahan dalam damai Allah.  Kita hidup dalam satu Roh, dan kita hendaknya satu hati dan satu pikiran.  Jadi Tuhan tidak menerima korban dari orang yang belum diperdamaikan.  Tuhan menyuruh dia meninggalkan altar dan berdamai dulu dengan saudaranya.  Maka Tuhan dapat didamaikan oleh doa-doa orang yang penuh damai.  Sebab korban mulia bagi Tuhan ialah, bahwa damai dan kerukunan antar saudara ada di tengah kita, dan kita menjadi umat yang bersatu dalam persatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Ketika Habel dan Kain pertama kali mempersembahkan korban, Tuhan tidak memandang korban mereka, melainkan hati mereka.  Jika orang terbukti hatinya berkenan kepada Tuhan, maka korbannya pun berkenan kepada-Nya.  Habel, orang benar, pembawa damai, dengan mempersembahkan korban kepada Tuhan dengan hati tulus murni, telah memberikan pengajaran kepada orang lain: kalau kamu mempersembahkan korban di atas altar, lakukanlah itu dengan takut akan Allah, dengan hati tulus murni, dan roh damai.  Sungguh sudah selayaknya, bahwa barangsiapa mempersembahkan korban dengan sikap hati seperti ini, ia sendiri pada hari pengadilan akan menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah.

Habel adalah orang pertama yang memberikan kesaksian hidupnya sebagai martir!  Dan dalam kemuliaan darahnya kita melihat lambang dari permulaan sengsara Tuhan, karena ia memiliki kesucian dan damai Tuhan.  Orang-orang seperti inilah yang akan menerima mahkota dari Tuhan, yang akan diakui oleh Tuhan sebagai milik-Nya pada hari pengadilan.  Sebaliknya mereka yang suka bertengkar dan berselisih, yang tidak hidup dalam damai dengan saudara-saudaranya, tidak akan bebas dari tuduhan sebagai penyebab perselisihan, bahkan juga kalau mereka telah dibunuh karena nama Kristus.  Beginilah kesaksian Rasul Paulus: “Barangsiapa membenci saudaranya, ia itu pembunuh,” dan tidak ada pembunuh yang dapat masuk ke dalam kerajaan surga atau hidup bersama Tuhan.  Tidak ada orang yang dapat hidup bersama Kristus, kalau ia memilih hidup mengikuti Yudas.

 


* Tahun 185 – 253.  Pujangga Gereja dan teolog unggul pada masanya; Direktur Sekolah Kateketik di Aleksandria; seorang ekseget dan ahli Kitab Suci yang sangat kritis; pembela ajaran Gereja, dan juga seorang ahli filsafat.