19 Juni 2022

HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS


Alangkah mulia dan mengagumkanlah Perjamuan ini!
Pembacaan dari sebuah karangan Santo Thomas Aquinas*

 

Putra tunggal Allah menghendaki kita mendapat bagian dalam keallahan-Nya.  Maka Ia mengenakan kodrat kita dan menjadi manusia, supaya manusia dijadikan-Nya ilahi.  Malahan segala apa yang diterima-Nya dari kita itu diberikan-Nya kembali demi keselamatan kita.  Sebab di altar salib, tubuh-Nya dipersembahkan-Nya kepada Allah Bapa sebagai korban untuk pendamaian kita; dan darah-Nya ditumpahkan-Nya sebagai tebusan serta pembasuhan, agar kita dibebaskan dari perbudakan malang serta dibersihkan dari segala dosa.  Supaya kenangan akan darma bakti sebesar itu dilestarikan sepanjang masa, Kristus menyerahkan tubuh-Nya sebagai makanan dan darah-Nya sebagai minuman untuk disantap para beriman dalam rupa roti dan anggur.

Alangkah mulia dan mengagumkan perjamuan ini yang melimpahkan keselamatan dan kenikmatan rohani!  Adakah sesuatu yang lebih mulia daripada perjamuan ini?  Sebab di dalamnya Kristus sendirilah, Allah yang benar, disuguhkan kepada kita, bukannya daging anak sapi dan kambing seperti dahulu pada masa berlakunya Taurat.  Adakah sesuatu yang lebih menakjubkan daripada sakramen ini?  Tiada satu sakramen lain pun lebih mujarab daripada Sakramen Ekaristi yang membersihkan dari dosa, meningkatkan kebajikan dan meresapi hati dan budi dengan limpahan berbagai kurnia rohani.  Sakramen ini diadakan untuk keselamatan semua orang; maka dipersembahkan dalam Gereja untuk orang yang masih hidup maupun yang sudah mati, agar semua memperoleh buah hasilnya.

Singkatnya dalam sakramen ini orang menimba kenikmatan rohani langsung dari sumbernya sehingga nyaman tak terperikan, dan mengenangkan kasih Kristus yang unggul luhur, yang dinyatakan dalam sengsara-Nya.  Dari sebab itu pada perjamuan terakhir ketika Kristus merayakan paskah bersama murid-murid-Nya menjelang beralih dari dunia ini kembali kepada Bapa, Ia mendirikan sakramen ini supaya kasih-Nya yang tak terhingga itu semakin teguh dipancangkan dalam hati para beriman; pun pula sebagai suatu kenangan abadi akan sengsara-Nya, sebagai tanda yang menyempurnakan semua pra-lambang lama dan sebagai mukjizat terbesar di antara segala keajaiban yang dikerjakan-Nya.   Dengan demikian ditinggalkan-Nya penghiburan istimewa kepada para pengikut-Nya yang bersedih hati karena kepergian-Nya.

 


*Tahun 1225-1274.  Seorang filsuf, teolog dan pujangga Gereja; pelindung kaum ilmuwan, khususnya ahli teologi.  Ia sangat menghormati Sakramen Mahakudus; ini tercermin dalam banyak doa dan nyanyian yang digubahnya antara lain: “Adoro Te” dan “Verbum Supernum”