9 Agustus 2022

PEKAN BIASA XIX – SELASA


Oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan
Pembacaan dari Uraian Theodoret dari Cyrus tentang Penjelmaan Tuhan

 

Kita disembuhkan oleh penderitaan Sang Penebus.  Inilah yang diajarkan oleh nabi, kalau ia berkata, ‘Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikul-Nya.  Padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.  Tetapi Ia terluka karena pelanggaran-pelanggaran kita.  Ia diremukkan karena kejahatan kita.  Ditimpakan kepada-Nya siksaan yang menyelamatkan kita, oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.  Kita sekalian sesat seperti domba; seperti anak domba Ia dibawa ke pembantaian, seperti induk domba di hadapan orang yang mencukurnya, ia kelu tidak membuka mulut-Nya.’

Kalau gembala melihat domba-dombanya tercerai berai, ia memanggil salah satu dari mereka, dituntunnya ke tempat penggembalaan yang dipilihnya, dan dengan contoh satu ini ia membimbing semua lainnya ke arah yang sama.  Begitu juga, ketika Sabda ilahi melihat umat manusia mengembara tanpa tujuan, ia mengambil bentuk seorang hamba, menjadikannya bentuknya sendiri, dan dengan demikian ia mengenakan kodrat manusia sepenuhnya.  Lalu ia menuntun manusia ke tempat penggembalaan ilahi, mereka yang sebelumnya terlantar, kurang mendapat makan dan menjadi mangsa serigala.

Itulah sebabnya Sang Juruselamat mengenakan kodrat kita.  Itulah sebabnya Kristus Tuhan kita mau menyerahkan diri untuk menanggung sengsara yang membawa penebusan.  Ketika Ia diserahkan kepada maut dan diletakkan di dalam makam, Ia mematahkan belenggu kekuasaan lama itu, dan memberikan janji tidak akan binasa kepada mereka yang berada dalam genggaman kebinasaan.  Sebab dengan membangun kembali kanisah yang telah dirombak, dan dibangkitkan dari mati, Ia menyatakan janji yang benar dan tidak pernah gagal kepada orang yang sudah mati dan mereka yang menantikan kebangkitan-Nya.

Ia berkata, ‘Sesungguhnya, kodrat yang Kuambil dari kalian, telah didiami oleh Allah dan dipersatukan dengan kodrat ilahi.  Jadi, kodrat itu sudah menerima kurnia kebangkitan.  Dan sekarang, dengan disingkirkannya kebinasaan dan segala bentuk penderitaan, kodrat itu menjadi tidak dapat binasa dan tidak dapat mati.  Begitu juga kamu akan dibebaskan dari perbudakan maut yang berat; dan setelah kebinasaan serta segala bentuk penderitaan telah disingkirkan daripadamu, akan dikenakan padamu busana keabadian.

Untuk itu Tuhan telah menganugerahkan kurnia pembaptisan bagi semua manusia dengan perantaraan para rasul.  ‘Maka pergilah,’ sabda-Nya, ‘ajarilah semua bangsa, jadikanlah mereka murid-murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.’  Pembaptisan itu suatu  pernyataan dan lambang kematian Tuhan.  ‘Sebab jika kita sudah dipersatukan dengan Dia dalam kematian-Nya,’  kata Santo Paulus, ‘kita tentu juga akan dipersatukan dengan Dia dalam kebangkitan-Nya.’