17 Agustus 2022

HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA


Martabat kemerdekaan
Pembacaan dari Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes dari Konsili Vatikan II

 

Hanya dalam kebebasan manusia dapat memalingkan dirinya kepada kebaikan.  Kebebasan inilah yang diharapkan sekali dan dicari dengan penuh gairah oleh manusia zaman kita ini.  Dan memang benarlah tindakan mereka itu!  Akan tetapi seringkali mereka menyalahgunakan kebebasan seolah-olah hal itu merupakan suatu jaminan bagi mereka untuk berbuat apa saja seturut kehendak hatinya, bahkan berbuat jahat.  Padahal kebebasan sejati merupakan ciri khas citra ilahi di dalam diri manusia.  Sebab Allah telah menghendaki agar manusia tetap “berada di bawah pengawasan keputusan-keputusannya sendiri”, sehingga ia dapat mencari Penciptanya dengan serta merta, menyatakan Dia dengan bebas, dan dengan setia kepada-Nya, ia dapat mencapai kesempurnaan yang membahagiakan.  Karenanya martabat manusia menuntut agar manusia bertindak menurut pilihan hati nuraninya dan dengan bebas, didorong dan ditetapkan oleh suatu keyakinan pribadi, dan tidak karena desakan naluri ataupun paksaan dari luar.  Manusia mencapai martabatnya ini apabila setelah membebaskan dirinya dari belenggu nafsu-nafsunya, memilih yang baik dengan bebas, lalu berjalan ke arah tujuannya dan berusaha sungguh-sungguh untuk menemukan saran-sarananya dengan kecerdasan akalnya sendiri.  Oleh karena kebebasan manusia itu telah dicederai oleh dosa, maka hanya dengan bantuan rahmat Allah dapatlah ia memulihkan hubungannya dengan Allah dan mengembangkannya dengan sepenuh-penuhnya.  Di hadapan singgasana peradilan Allah, setiap orang nanti harus mempertanggungjawabkan hidupnya sendiri, menurut banyak sedikitnya kebaikan atau kejahatan yang telah diperbuat olehnya.