Keheningan

Mungkinkah keheningan dialami dan dirindukan di jaman ini?  Apakah keheningan dan perannya dalam kehidupan kita?  Bagaimana kita belajar membangun keheningan dalam hidup harian kita?

Ada tiga bentuk keheningan: keheningan lahiriah, keheningan batin dan keheningan lidah.  Keheningan lahiriah berkaitan dengan suasana lingkungan dan gerak tubuh kita.  Keheningan batin adalah sikap batin yang diam di hadapan Tuhan dalam sembah sujud, keheningan lidah saat kita diam, dalam kesadaran penuh atas kekuatannya: “Lidah adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yak 3:5).  Kita diam “supaya jangan berdosa dengan lidahku” (Mzm 38:3).

Kita memerlukan bentuk-bentuk keheningan di atas untuk tumbuh sebagai manusia dewasa, reflektif dan bijak.  St.Benediktus mengajarkan kepada para rahibnya agar menyediakan waktu untuk berdiam diri di hadapan Allah, membiarkan Allah berbicara dalam  hati yang terdalam, dengan demikian kita tumbuh sebagai manusia yang dikehendaki Allah, manusia yang mampu membangun komunikasi dalam kebenaran demi peradaban kasih persaudaraan.

Dalam hidup harian, mungkin kita sering menganggap segala sesuatu sebagai yang semestinya kita terima, misalnya: nafas hidup, pelayanan publik atau pelayanan-pelayanan dalam rumah tangga: dari istri, suami, anak, bahkan dari pembantu, sopir, tanpa rasa syukur atau terima kasih.  Sesugguhnya rasa syukur dan terima kasih kita merupakan ungkapan kesetiaan kita pada perkara-perkara kecil dalam kejujuran dan kebenaran, sebagaimana yang diajarkan Yesus dalam bacaan hari Minggu XXV ini.  Kesetiaan ini adalah buah dari kemampuan kita masuk ke dalam keheningan, khususnya keheningan batin; saat inilah, kita masuk ke dalam lubuk hati kita dan dimampukan untuk mendengarkan suara kasih – sumber hidup dan kebahagian kita.

 

Marilah kita bermurah hati merelakan waktu untuk melatih diri dalam menghidupi keheningan agar kita dapat berdamai dengan diri sendiri, sesama dan Allah.  Dengan demikian kita pun ambil bagian di dalam pembangunan dunia sebagai rumah kediaman bersama.