Maria

Bunda dan Ratu

 

Setiap tahun pada bulan Oktober, Gereja mengundang kita untuk membarui devosi kita kepada dia yang pertama menyanyikan Magnificat, Wanita yang disebut bahagia dari generasi ke generasi, Bunda kita, Ratu kita.

Sesudah Fiat-nya yang memasukkan dirinya ke dalam misteri keselamatan secara mendalam dan berkat sapaan Elisabeth yang diinspirasi oleh Roh Kudus, Maria meletus dalam sukacita dan mengidungkan Magnificat.  Ia bersyukur dan mengungkapkan pujian di hadapan Allah dan bagi Allah yang telah memulai karya keselamatan bagi umat manusia dan membuat dirinya secara penuh mengambil bagian di dalamnya, dalam kesadaran diri sebagai ciptaan-Nya yang rendah.

Inilah keteladanan Maria yang utama bagi kita manusia, yang meskipun terpilih, Maria tetap menempatkan diri sebagaimana mestinya di hadapan Penciptanya, sumber keberadaannya.  Kerendahan hati Maria merupakan suatu ungkapan iman yang teguh, sekaligus kasih menyala bagi Sang Pencipta.

Keutamaan Maria merupakan suatu anugerah dan anugerah ini dipenuhkan saat Yesus Sang Putra Ilahi bersabda di atas salib “Wanita, inilah anakmu!”  Saat itu Yesus menyerahkan kita semua, manusia yang dikasihi-Nya, ke dalam bimbingan dan asuhannya.  Dan mulai saat itulah Maria mengemban tanggung jawab keibuannya bagi kita.

Maria adalah Bunda kita, sekaligus Ratu kita.  Maria adalah Ratu berkat totalitas penyerahannya yang diungkapkan melalui Magnificat-nya: “Jiwaku mengagungkan Tuhan, Juru Selamatku”.  Totalitas penyerahan Maria kepada Allah merupakan kunci keselamatan dan kemuliaan Maria.  Untuk mampu mengalami totalitas penyerahan inilah Yesus menyerahkan kita ke dalam kasih keibuannya, dan melaluinya Maria beroleh kuasa atas jiwa dan raga kita.

Sesungguhnya ungkapan doa yang selalu kita ucapkan pada saat mendoakan doa Salam Maria: “doakanlah kami….sekarang dan waktu kami mati…” merupakan ungkapan keyakinan kita akan kuasanya ini.  Hanya dengan berpaling pada Sang Bunda, kita sungguh dimampukan beroleh kekuatan dan dia selalu akan memenangkan kita dari cengkeraman kuasa lain.  Karena kekecilan dan kemiskinannyalah, Maria ditentukan untuk berada di pusat perjuangan spiritual dan menjadi pemenang.  Hal ini telah disabdakan Allah sendiri dalam Kitab Kejadian 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini…kamu akan meremukan tumitnya dan dia akan meremukkan kepalamu,” perempuan itu adalah Bunda kita: Maria.

Ad Jesus per Mariam.  Santo Louis de Monfort menghidupi motto ini: ‘Ad Jesus per Mariam’ yang berarti ‘kepada Yesus melalui Maria’.  Motto ini bisa diteruskan, “…ke mana lagi Maria akan membimbing kita jika bukan kepada Yesus?”  Sebab satu-satunya kerinduan Maria adalah kita masing-masing menjadi seperti Yesus.  Dan sesungguhnya, devosi kepada Maria merupakan tanda jelas kita sedang menapakkan langkah-langkah kita di jalan benar.

 

Marilah kita dalam segala hal dan kesempatan di bulan Maria ini membuka hati dan budi agar mampu sepenuhnya menanggapi bimbingan dan kasih keibuan Bunda dan Ratu kita, Maria agar kita semakin layak disebut putra-putri Allah saudara-saudari Yesus, putra-putri Maria yang lain.