22 Februari 2023

RABU ABU


Tobat
 Pembacaan dari surat Paus Klemens II kepada umat di Korintus

 

Marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada darah Kristus dan menyadari, betapa indah darah itu di mata Tuhan.  Darah itu tertumpah bagi keselamatan kita, dan membuka sumber rahmat, agar seluruh umat manusia dapat bertobat.  Sebab kita cukup melayangkan pandangan kita pada angkatan-angkatan di masa lampau.  Kita mengetahui, bahwa dalam setiap angkatan Tuhan telah membuka kemungkinan untuk bertobat bagi setiap orang yang berpaling kepada-Nya.  Ketika Nuh menganjurkan pertobatan, orang-orang yang mengindahkan perkataannya memperoleh keselamatan.  Ketika Yunus mengumumkan bahwa rakyat Niniwe akan binasa, mereka bertobat.  Mereka meninggalkan dosanya dan berbuat silih kepada Tuhan dengan doa dan permohonan.  Maka mereka memperoleh keselamatan, meskipun sebetulnya mereka itu bangsa asing dan tidak kenal akan Dia.  Semua yang pernah menjadi pelayan rahmat Allah atas kuasa Roh Kudus, berbicara tentang pertobatan.  Tuhan sendiri penguasa alam semesta berbicara tentang itu.  Bahkan Ia menguatkannya dengan sumpah, “Demi Aku yang hidup,” sabda Tuhan, ”Aku tidak berkenan pada kematian orang fasik, melainkan pada pertobatannya.”

Dengan penuh kasih Ia menambahkan pernyataan ini, “Bertobatlah, O umat Israel, dan kembalilah dari kefasikanmu.  Katakanlah kepada anak-anak bangsa-Ku: Meskipun dosamu membentang dari bumi ke langit, dan lebih merah dari kirmizi serta lebih hitam dari arang, tetapi apabila kamu dengan sepenuh hati berpaling kepada-Ku, dan menyebut ‘Bapa’, Aku akan mendengarkan kamu sebagai bangsa yang suci.”  Jadi dengan kemauan-Nya yang mahakuasa, Tuhan menyatakan keinginan-Nya, agar pertobatan terbuka bagi setiap orang yang dicintai-Nya.  Marilah kita tunduk kepada kehendak-Nya yang kuasa dan mulia.  Marilah kita menanggapi belas kasih dan kebaikan-Nya, dan menyerahkan diri kepada kemurahan hati-Nya, dan tidak lagi membuang-buang kekuatan dengan persengketaan dan persaingan, yang akhirnya hanya membawa kematian.

Saudara-saudara, hendaklah kita rendah hati sedikit dengan meninggalkan sikap sombong, pembual dan pertengkaran busuk.  Sebaliknya hendaklah kita kembali pada ajaran Injil.  Kata Roh Kudus, ”Janganlah orang arif bermegah-megah akan kearifannya, orang kuat akan kekuatannya, dan orang kaya akan kekayaannya.  Namun apabila seseorang ingin berbangga, hendaklah ia berbangga akan Tuhan, mencari Dia, dan berlaku adil dan jujur.”  Hendaklah kita secara khusus ingat akan sabda Tuhan kita Yesus Kristus, yang disebutkan dalam salah satu ajaran-Nya tentang kemurahan hati dan kesabaran: “Ampunilah supaya kamu diampuni.  Apa yang kamu perbuat sendiri, akan diperbuat kepadamu.  Apa yang kamu beri, akan diberikan kepadamu.  Seperti kamu mengadili, demikian kamu pula akan diadili. Kalau kamu menunjukkan kelembutan, kelembutan juga akan ditunjukkkan kepadamu. Bagianmu akan ditimbang menurut ukuran neracamu.”  Semoga perintah dan peraturan ini memperkuat niat kita untuk hidup dengan rendah hati dan baik budi, dan taat kepada sabda-Nya yang suci.  Sebab firman suci berbunyi, ”Orang yang Kusayang ialah orang yang rendah hati dan suka damai, gentar terhadap firman-Ku.”

Jadi memang ada harta pusaka luas meliputi perbuatan-perbuatan mulia, yang harus kita bagi bersama.  Maka hendaklah kita bergegas kembali kepada keadaan tenang damai.  Sebab itulah yang dari semula ditunjukkan kepada kita sebagai tujuan yang harus kita capai.  Marilah kita mengalihkan pandangan kepada Bapa dan Pencipta alam semesta.  Dan apabila kita ingat, betapa indah karunia kedamaian-Nya, maka marilah kita memeluknya penuh cinta bagi diri kita.