Keheningan Santo Yusuf

Sebagai orang Kristiani, kita semua mengenal Santo Yusuf.  Paus Fransiskus dalam surat Apostoliknya ‘Patris Corde’ menegaskan bahwa Santo Yusuf adalah seorang yang dikasihi Allah dan yang mengasihi-Nya.  Pribadinya tidak menarik perhatian, kehadirannya tersembunyi, meskipun demikian ia menjadi  seorang perantara, pendukung dan penuntun kita pada saat-saat sulit.  Kitab Suci sedikit sekali membicarakan tentang dia (lih. Mat 1).  Meskipun tanpa kata, Yusuf “taat”, ia melakukan semua perintah Tuhan, pertama-tama untuk mengambil Maria sebagai istrinya dan bertanggung jawab atas keluarga kudus Nazaret, menjadi suami Maria dan bapa pengasuh Yesus.

Maka, keagungan Santo Yusuf ada dalam fakta bahwa dia taat sepenuhnya pada kehendak Allah.  Ketaatan ini terwujud dalam seluruh hidupnya dengan melayani Yesus dan dengan demikian seluruh rencana keselamatan.  Ia mengarahkan panggilan manusiawinya kepada kasih kekeluargaan; ia menggendong, mengasuh Yesus, membesarkan-Nya, mendampingi dan melindungi Maria, menjadi teman hidupnya dan saksi keperawanannya.

Yang mengesan bagi kita dari semua keutamaan Santo Yusuf adalah hidupnya yang tersembunyi dan hening.  Pada jaman sekarang ini, orang cenderung hidup terbenam dalam kesibukan, keramaian, yang membuat sulit untuk masuk dalam keheningan.  Dunia kita dipenuhi dengan bermacam hal, dengan alat-alat komunikasi canggih.  Namun banyak orang, yang meskipun berada dalam kesibukan dan keramaian, hatinya merasa kosong, sepi, tidak bahagia dan tidak sedikit yang mengalami depresi dan putus asa.

Dom Bernardus Peeters, Abas Jendral Ordo Trappist mengatakan:
”Saat-saat kamu tidak lagi melihat bagaimana meneruskan jalan kecil hidupmu, waktu setiap kesempatan tampak hilang, waktu usahamu tampak sia-sia, heninglah!  Biarkanlah dirimu dibawa oleh keheningan, diangkat oleh cinta, tanpa resistensi, tanpa gangguan keributan pikiranmu.  Kemudian kamu akan menemukan jalan untuk diikuti dan di dalamnya kamu akan menangkap secercah wajah-Nya, dan kamu akan memancarkan damai-Nya.”

 

Maka marilah kita belajar hening, masuk ke dalam hati kita.  Marilah kita mohon kepada Santo Yusuf supaya mendoakan kita dan menyertai perjalanan peziarahan kita menuju Bapa.