Penderitaan yang Menyelamatkan

“O Salib, wajah Putra yang tersiksa, O Salib, keselamatan para putra;
harapan, dambaan manusia, Engkaulah janji bahagia.
Bangkitlah, hati manusia berdosa, rindukan kasih karunia Sang Putra;
derita yang menyelamatkan, Engkaulah jalan kehidupan.“

Melalui Madah Prapaskah di atas, Gereja mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah masalah yang harus dipecahkan atau ditiadakan, melainkan suatu misteri yang perlu dihidupi dalam iman. Ini berarti menerimanya dalam iman untuk memahami maknanya yang terdalam, agar dapat menerima keselamatan yang dianugerahkan melaluinya. Iman Kristiani selalu mengaitkan penderitaan manusia, sekecil apapun, dengan Salib Kristus.

Bagi orang Kristiani, penderitaan mengandung suatu tanda harapan, yang terungkap melalui seruan memohon pertolongan untuk “diselamatkan”. Di kedalaman hati manusia ada kebebasan yang menolak untuk ditundukkan oleh kuasa lain apa pun selain oleh kuasa Allah.

Penderitaan dapat menyelamatkan hanya karena Rahmat. Itulah Kasih yang dikenal sebagai kasih tanpa syarat, kasih tanpa batas: yaitu Allah. Dalam ketidak-berdayaan kita untuk menanggung penderitaan, kita bertanya: “mengapa?” Kepada siapakah sebenarnya kita bertanya, “mengapa?” Penderitaan membuka suatu dialog dengan Misteri: tiba-tiba kita menjadi sadar bahwa kita sedang bercakap-cakap dengan Misteri itu: Allah sendiri.

Adanya penebusan yang terkait dengan penderitaan yang dialami, menunjukkan bahwa penderitaan itu bukan “jawaban akhir” dari suatu masalah, melainkan merupakan suatu peristiwa yang mentransformasikan drama penderitaan menjadi drama kasih dan memperlihatkan secara nyata betapa kasih lebih kuat dari pada penolakan.

Penebusan tidak meniadakan penderitaan. Sebagaimana penderitaan membentuk “dunia” penderitaan, demikian pula penebusan membangun komunitas kasih yang dapat menjadi rumah bagi yang menderita. Penderitaan di dunia menjadi undangan bagi manusia bebas untuk memeluk panggilan sebagai manusia baru yang dapat berjalan bersama dengan yang lain sebagai komunitas yang telah ditebus. Itu berarti: membuka diri untuk yang baru, memberi ruang kepada yang lain, khususnya yang menderita dan membantu mereka untuk menghadapi kesepian dan kebosanan dalam hidup.

 

Semoga kita semakin berani menghadapi penderitaan harian kita dan tumbuh sebagai manusia baru sesuai dengan kehendak-Nya.