Gembala Baik

Dalam Injil Yohanes Bab 10, Yesus menyebut diri-Nya Gembala yang baik, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.  Yesus bukan hanya gembala yang menuntun kawanan domba-Nya ke padang rumput yang hijau dan menjaganya dari serangan binatang buas, namun bahkan Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.  Kitalah domba-domba-Nya.  Dia menyerahkan nyawa-Nya di salib untuk menebus dan menyelamatkan kita yang telah jatuh dalam dosa dan tersesat karena meninggalkan Allah Pencipta kita.  Dia ingin supaya kita dapat kembali kepada Allah, dan hidup sebagaimana Allah merencanakan bagi kita, yaitu hidup dalam kebahagiaan, dalam kesatuan dengan Allah.

Yesus juga menyebut diri-Nya sebagai pintu: “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput… Aku datang supaya mereka menemukan hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:9-10)

Dosa adalah terputusnya relasi manusia dengan Allah, dan upah dosa adalah kematian.  Dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus sungguh mewujudkan diri-Nya sebagai pintu, yang terbuka bagi manusia kepada hidup sejati.  Karena kematian dikalahkan-Nya, dosa kita ditebus, pengampunan dicurahkan sehingga kita bisa masuk ke dalam hidup baru, hidup bersama Allah.  Hanya dalam relasi dengan Allah, manusia sungguh-sungguh hidup.  Dia adalah sumber hidup, dalam Dialah kebahagiaan sejati kita.  Tidak berarti bahwa hidup menjadi bebas dari kesusahan, penderitaan, sakit bahkan kematian, tetapi berkat kebangkitan Kristus, harapan kita dinyalakan: kita tidak sendirian.  Allah tidak menghilangkan penderitaan, tetapi Ia menemani kita, Ia berjalan di samping kita, memberi rahmat dan kekuatan agar kita dapat membawa beban dan kesusahan hidup bersama-Nya.

Paus Benediktus XVI mengungkapkan dengan indah kebenaran ini dalam Ensiklik SPE SALVI (Harapan yang Menyelamatkan):

“Gembala sejati adalah Dia yang mengenal semua jalan, juga jalan yang melewati lembah kematian; Dia berjalan bersamaku juga pada lorong kesunyian terakhir, saat tidak seorang pun dapat mendampingi aku, untuk membimbing aku melaluinya.  Dia sendiri telah melewati lorong itu, Dia telah turun ke dalam kerajaan maut, Dia telah mengalahkan maut dan kembali untuk mendampingi kita sekarang, untuk memberi pada kita keyakinan bahwa, bersama Dia, kita mampu menemukan jalan keluar.”    (Spe Salvi 6)

 

Apakah aku sungguh mempercayakan diriku, hidupku dengan segala situasinya kepada bimbingan dan perlindungan Yesus, Sang Gembala Baik, Gembala Sejati yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatanku?