Misteri Tritunggal Mahakudus

Misteri Tritunggal Mahakudus adalah misteri pokok Iman Kristiani dan hidup Kristiani.  Itulah  misteri Allah sendiri yang adalah sumber yang menerangi semua misteri lain.  Apa artinya bagi kita, bagi saya, misteri Tritunggal ini?  Bagaimana kita mengkomunikasikan misteri ini?  Bagaimana Gereja mengajarkannya?

Pengajaran mengenai Tritunggal merupakan hasil dari pengalaman Gereja sendiri.  Muncul dari perjumpaan dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Kristus.  Bertumbuh dalam keakraban dengan kata dan tindakan itu dalam iman dan doa.  Allah dikenal melalui doa daripada pikiran.  Kita mengenal seorang pribadi melalui relasi, demikian juga untuk mengenal Allah.  Allah itu “Yang Lain” seluruhnya, melampaui pengertian kita, otak kita terlalu kecil untuk memahami Allah, bahkan orang yang paling pandai tentang misteri ini pun menyadari bahwa itu melampaui (legenda yang menggambarkan perjuangan St. Agustinus).

Kita merenungkan Tritunggal Mahakudus sebagaimana Yesus memperkenalkan-NYA kepada kita.  Dia mewahyukan kepada kita bahwa Allah adalah Kasih.  Dia adalah Pencipta dan Bapa penuh belas kasih, Dia adalah Putra Tunggal, Kebijaksanaan abadi yang menjelma, yang mati dan bangkit bagi kita, Dia adalah Roh Kudus yang menggerakkan segalanya, semesta dan sejarah menuju tujuan akhir penuh bahagia.  Tiga Pribadi yang adalah satu Allah, karena Bapa adalah Kasih, Putra adalah Kasih, dan Roh Kudus adalah Kasih.  Keseluruhan Allah adalah Kasih satu-satunya, murni tak terbatas dan abadi.  Dialah sumber hidup tak habis-habisnya yang diberi dan dikomunikasikan tanpa henti.

Segala sesuatu berasal dari kasih, menginginkan kasih dan didorong oleh kasih.  “Dalam Dia kita hidup, bergerak dan ada“ (Kis 17:28), kata St. Paulus di Areopagus Athena.  Bukti yang paling kuat bahwa kita dijadikan dalam gambar Tritunggal adalah bahwa kasih saja membuat kita bahagia, karena kita hidup dalam relasi dan kita hidup untuk mengasihi dan dikasihi.  Maka kita yang sudah menerima Pembaptisan dipanggil untuk membagikan kebahagiaan ini, untuk membuka diri menjadi kediaman Tritunggal Mahakudus.  SabdaNya “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

Kita belajar dari Perawan Maria, yang dalam kerendahan hatinya tunduk, menjadi hamba dari Kasih Ilahi dengan menerima kehendak Bapa dan mengandung Putra melalui kekuatan Roh Kudus.  Di dalam Maria, Allah Yang Mahakuasa membangun bait yang layak bagi Dia dan membuat dia model dan gambar Gereja, misteri dan rumah komunio bagi semua umat manusia.

 

Semoga Maria, cermin Tritunggal Bahagia membantu kita untuk tumbuh dalam iman akan misteri Tritunggal.  Amin.