Sakramen Pemberian Diri Kristus

Di dalam Gereja, Allah menganugerahkan seluruh kepenuhan hidup-Nya dan memampukan kita – manusia fana dan berdosa ini – mengambil bagian dalam hidup Allah.  Seluruh hidup Allah dihadirkan dalam Ekaristi.  Dalam Ekaristi, Yesus – Putra Allah – menjadi “Tubuh dan Darah-Nya” yang dibagikan kepada kita untuk dimakan dan diminum.  Dia masuk menjadi bagian tubuh kita, meresapi kita secara sangat dalam dan intim.  Dalam Ekaristi juga Yesus menjadi Gereja, yaitu Tubuh Mistik-Nya.  Kita yang telah makan dan minum Tubuh dan Darah-Nya, dijadikan Tubuh-Nya yang hidup di dunia saat ini dan sepanjang masa.  Itulah seluruh misi Yesus, seluruh sengsara-Nya, kebangkitan-Nya, seluruh hidup-Nya, itulah perwujudan doa-Nya: “Semoga mereka bersatu, sama seperti Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa, supaya mereka juga ada di dalam Kita”.

Untuk itu semua, Yesus rela “diperkecilkan”, menjadi sangat kecil dan rapuh, agar dapat mengasihi kita dengan cuma-cuma tanpa syarat.  Allah tergantung sepenuhnya pada iman kita untuk percaya bahwa Dia hadir dan memberi Tubuh-Nya dan seluruh keberadaan-Nya agar dapat bersatu dengan kita.  Itulah kerinduan-Nya.  Bagaimana dengan kita?  Misi Yesus adalah misi “ketidakberdayaan”, Dia tergantung pada iman kita untuk menjadikan misi-Nya terpenuhi, terwujud secara konkrit dalam hidup kita.  Dia tahu bahwa kita akan terus lupa, tidak selalu berpikir tentang Diri-Nya, karena terus terpusat pada diri sendiri dalam keegoisan, dan tidak memberi ruang bagi-Nya di dalam diri kita.  Walaupun demikian, Kasih-Nya tidak bisa lain selain terus mengasihi, artinya terus memberi diri bagi yang dikasihi-Nya.

Inilah arti dari Hari Raya ini, yang merayakan pemberian seluruh diri Yesus bagi kita dengan Tubuh dan Darah-Nya yang kita terima setiap hari dalam Perayaan Ekaristi.  Kasih-Nya tak terbatas, Dia terus dan terus memberikan diri-Nya sebagai santapan bagi kita.

 

Marilah kita mengkomitkan diri untuk setia mengikuti Perayaan Ekaristi, untuk menerima anugerah kehadiran-Nya dalam Tubuh dan Darah-Nya, agar hidup kita semakin dijadikan serupa dengan Dia.