24 Juli 2023

PEKAN BIASA XVI – SENIN


Satu permohonan doa, satu harapan
dalam cinta dan dalam kegembiraan kudus
 Pembacaan dari Surat-surat St. Ignasius dari Antiokhia kepada Jemaat di Magnesia

 

Aku telah melihat dengan mata iman dan mencintai seluruh jemaat kalian dalam orang-orang yang telah kusebutkan, maka perkenankanlah aku sekarang mendesak kalian untuk berusaha melaksanakan segala sesuatu dalam kesatuan dengan Allah.  Hendaklah uskup menjadi ketua sebagai wakil Allah, para klerus bertindak sebagai dewan rasuli, sedangkan para diakon, sahabat-sahabatku tercinta, hendaklah kepada mereka dipercayakan pelayanan Yesus Kristus, yang sejak semula tinggal bersama Bapa dan akhirnya telah menyatakan diri-Nya kepada kita.  Setiap orang harus berusaha hidup sedekat mungkin dengan Allah.  Ikutilah jalan-jalan Allah, hendaknya kalian saling menghormati.  Janganlah ada yang mengadili sesamanya seperti yang dilakukan oleh dunia, tetapi kasihilah satu sama lain selalu dalam roh Yesus Kristus.  Jangan sampai ada sesuatu pun di antara kamu, yang dapat menimbulkan perpecahan!  Hiduplah dalam kesatuan mutlak dengan uskup dan pemimpin-pemimpinmu, sebagai teladan bagi yang lain dan pola dari kehidupan abadi.

Tuhan kita bersatu sempurna dengan Bapa, dan tidak pernah bertindak lepas dari Dia, baik dari diri-Nya sendiri atau melalui rasul-rasul-Nya.  Demikian jugalah kalian, janganlah bertindak lepas dari uskupmu dan para klerus, jangan sekali-kali kalian meyakinkan diri, bahwa baik dan layaklah mengikuti pikiranmu sendiri; tetapi bila kalian berkumpul, hendaknya ada satu ibadat doa, yang dihadiri bersama; satu permohonan, satu pemikiran dan satu harapan, dalam cinta dan kegembiraan tanpa cela, sebab Yesus Kristus adalah satu dan sempurna.  Hendaklah kalian bersama-sama, seakan-akan menghampiri bait Allah yang satu-satunya, berhimpun di sekeliling satu-satunya altar, dan bergegas menuju satu-satunya Tuhan, Yesus Kristus, yang turun dari Bapa satu-satunya, selalu bersatu dengan Bapa dan kini kembali kepada Bapa yang satu dan  sama.

Janganlah kamu sampai disesatkan oleh ajaran atau cerita-cerita yang lapuk oleh masa, yang berasal dari bangsa lain.  Kalau kita masih hidup mengikuti cara-cara Yahudi, artinya kita mengakui bahwa kita belum menerima rahmat.  Sebab hidup para nabi suci pun diilhami oleh Allah dan digerakkan oleh Yesus Kristus, oleh karena itu mereka dikejar-kejar.  Karena mereka diilhami oleh rahmat Allah, untuk meyakinkan dunia yang tidak percaya, bahwa hanya ada satu Allah, yang telah mewahyukan diri-Nya dalam Yesus Kristus Putra-Nya,  Sang Sabda yang keluar dari keheningan Bapa sendiri, dan yang dalam segala perbuatan-Nya berkenan di hati Bapa, yang mengutus-Nya.

Mereka yang hidup menurut kebiasaan-kebiasaan kuno kini memperoleh harapan baru, sehingga mereka meninggalkan perayaan Sabat, dan sekarang mengatur hidup mereka menurut Hari Tuhan, hari Minggu.  Pada hari Tuhan itulah pertama kali hidup merekah bagi kita, berkat Kristus dan kematian-Nya.  Beberapa orang menyangkal misteri ini, tetapi kita, justru melalui misteri ini kita menerima iman kita dan karenanya kita bertekun, agar kita bisa membuktikan bahwa kita adalah murid-murid Guru satu-satunya, Yesus Kristus.  Apalagi para nabi di masa silam pun mengharapkan kedatangan-Nya sebagai Guru, karena dalam roh mereka menjadi murid-murid-Nya.  Dan itulah sebabnya, Yesus yang mereka tunggu-tunggu itu, membangkitkan mereka dari maut, ketika Ia datang.  Bagaimana mungkin kita dapat hidup tanpa Dia?