27 Juli 2023

PEKAN BIASA XVI – KAMIS


Cahaya Allah dimeteraikan dalam diri kita
Pembacaan dari uraian Santo Ambrosius tentang Mazmur 43

 

‘Mengapa Engkau memalingkan wajah-Mu?’  Kita berpikir bahwa Allah memalingkan wajah-Nya dari kita, apabila kita sedang menderita, dan pikiran serta hati kita diliputi kegelapan hingga tidak mampu melihat cahaya kebenaran.  Tetapi jika Allah menyentuh akal budi kita dan berkenan mengunjungi hati kita, maka kita yakin bahwa tak ada suatu pun yang dapat menenggelamkan kita ke dalam kegelapan.  Wajah seseorang nampak lebih jelas daripada bagian-bagian tubuh lainnya; maka kalau kita melihat wajah seseorang, kita langsung tahu, apakah ia itu orang asing atau orang yang sudah kita kenal, karena ia tidak dapat menyembunyikan diri di hadapan pandangan kita.  Betapa lebih nyatalah wajah Allah menerangi mereka yang dipandang-Nya.

Tentang hal ini Rasul Paulus mengatakan sesuatu yang mengesankan.  Ia berbakat untuk memperkenalkan Kristus agar dipahami dengan lebih baik, dan membawa-Nya lebih dekat kepada kita melalui uraian dan kata-kata yang tepat.  Kita baca dalam Suratnya yang Kedua kepada umat di Korintus: ‘Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus’ (2Kor 4:6).  Jadi kita telah mendengar tentang tempat Kristus bercahaya dalam diri kita.  Sesungguhnya, Dialah cahaya kekal bagi jiwa, Ia diutus oleh Bapa ke dunia ini untuk menyinari kita dengan cahaya wajah-Nya, agar kita mampu mengkontemplasikan hal-hal abadi dan surgawi, yang sebelumnya tidak mungkin, karena kita terpenjara dalam kegelapan dunia.

Mengapa aku berbicara tentang Kristus, karena bukankah Rasul Petrus berkata kepada orang yang lumpuh sejak lahir itu, ‘Pandanglah kami!’ (Kis 2:4) ?  Si lumpuh itu lalu memandang Petrus, dan ia diterangi oleh karunia iman, maka disembuhkan!  Tidak mungkin ia disembuhkan, kalau ia tidak percaya dengan iman!

Kendati cahaya kemuliaan sungguh hadir dalam diri pribadi para rasul, Zakeus lebih suka memilih melihat Kristus!  Tatkala Zakeus mendengar Tuhan akan lewat, ia segera naik pohon, sebab perawakannya yang pendek dan kecil itu terhalang oleh orang banyak, sedangkan ia ingin sekali melihat Yesus.  Betul!  Ia melihat Kristus dan menemukan terang!  Ia melihat Kristus.  Dan bila sebelumnya ia biasa merampas harta orang lain, saat itu ia menyerahkan semua yang menjadi miliknya dan membagikannya.

Mengapa Engkau memalingkan wajah-Mu?  Sekalipun Engkau memalingkan wajah-Mu dari kami, ya Tuhan, namun cahaya kemuliaan wajah-Mu tetap termeteraikan pada kami.  Kemuliaan-Mu ada di dalam hati kami dan bercahaya di kedalaman roh kami.  Sungguh, tidak seorang pun dapat hidup bila Engkau memalingkan wajah-Mu.