12 Agustus 2023

PEKAN BIASA XVIII – SABTU


Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan
Pembacaan dari Uraian St. Ireneus melawan bidaah

 

Allah tidak minta persembahan atau korban bakaran dari umat-Nya.  Yang dicari-Nya ialah iman, ketaatan dan kesucian, demi keselamatan mereka sendiri.  Ia mengajarkan kepada mereka apa yang menjadi kehendak-Nya dalam kata-kata nabi Hosea: ‘Aku menyukai belas kasihan, dan bukan korban sembelihan, pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.  Tuhan kita juga mengingatkan yang sama kepada mereka, waktu berkata, ‘Seandainya kamu mengerti arti kata “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan, bukan persembahan,” kamu tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah.’  Dengan kesaksian ini Ia meneguhkan ajaran para nabi, dan menghukum umat karena  kebodohannya yang salah.

Namun Ia menasihati para murid-Nya untuk mempersembahkan kepada Allah buah-buah pertama dari ciptaan-Nya, bukan karena Allah membutuhkannya, tetapi agar mereka tidak hidup tanpa berbuah atau tanpa rasa syukur.  Ia mengambil sesuatu dari ciptaan-Nya, yaitu roti, dan sambil bersyukur Ia berkata, ‘Inilah tubuh-Ku.’  Demikian pula Ia menyatakan bahwa piala itu, unsur ciptaan yang sama seperti kita sendiri, adalah darah-Nya; dan Ia mengajarkan, bahwa itulah korban persembahan baru dari Perjanjian Baru.  Korban persembahan inilah yang diterima oleh Gereja dari para rasul, dan yang di seluruh dunia dipersembahkan kepada Allah, yang memberi kita makan, sebagai buah pertama dari kurnia-kurnia-Nya sendiri di bawah Perjanjian Baru.

Maleakhi, salah satu dari keduabelas nabi, meramalkan hal itu dalam kata-kata ini, ‘Aku tidak suka kepadamu, firman TUHAN semesta alam, dan Aku tidak berkenan menerima persembahan dari tanganmu.  Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam.’  Jelas maksud-Nya, bahwa umat lama akan berhenti membawa persembahan-persembahan kepada Allah, tetapi akan ada korban yang dipersembahkan bagi-Nya di setiap tempat, korban yang murni, dan nama-Nya akan besar di antara bangsa-bangsa.

Nama manakah yang dimuliakan di antara bangsa-bangsa, kalau bukan nama Tuhan kita?  Oleh Dia, Bapa dan juga manusia dimuliakan!  Tetapi karena nama itu milik Putra-Nya sendiri, dan karena oleh Bapa, Sabda menjadi daging, Ia menyebut itu nama-Nya sendiri.  Ambillah contoh ini: Apabila seorang raja melukis gambar putranya, tepatlah bahwa ia menamakan gambar itu miliknya, karena dua alasan: karena itu gambar putranya, dan karena ia sendiri yang melukisnya.  Demikian pula dengan nama Yesus Kristus, yang dimuliakan di dalam Gereja di seluruh dunia; Bapa mengakui nama itu sebagai milik-Nya karena itulah nama Putra-Nya dan karena Dia sendirilah yang menulisnya dan menganugerahkannya bagi keselamatan manusia.

Karena nama Putra itu sungguh milik Bapa, dan karena di setiap tempat Gereja mempersembahkan korbannya kepada Allah Yang Mahakuasa dengan perantaraan Yesus Kristus, kata-kata nabi itu sangat tepat, bahwa ‘Di setiap tempat dipersembahkan dupa bagi nama-Ku dan suatu korban murni.’  Dupa itu adalah doa para kudus, seperti dikatakan oleh Yohanes dalam Kitab Wahyu.