Hanya Satu Hal yang Perlu

Ketika Yesus pergi ke luar, ia melihat seorang pemungut pajak, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai.  Yesus berkata kepadanya “Ikutlah Aku!”  Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu  mengikut Dia.  (Luk. 5:27-28)

Hidup kita ditentukan menjadi seperti hidup Yesus.  Tujuan perutusan Yesus adalah membawa kita kembali ke rumah Bapa. Misi Yesus tidak hanya untuk membebaskan kita dari belenggu dosa dan kematian, tetapi juga untuk membimbing kita kepada komunio kasih-Nya dengan Bapa.  Hanya kalau kita mengerti misi Yesus ini, kita akan mengerti arti hidup spiritual.

“Berada di dunia tanpa menjadi milik dunia”  merangkum gambaran Yesus tentang hidup spiritual.  Dengan  setia menjalani hidup spiritual itu kita diubah oleh Roh Kasih.  Jadi untuk itu kita tidak selalu harus meninggalkan keluarga, pekerjaan. Tidak selalu harus menarik diri dari kegiatan sosial atau politik, atau memadamkan kecintaan kita pada literatur atau seni, tidak juga membutuhkan askesis tinggi atau jam-jam doa yang panjang.  Hidup spiritual bukan hanya untuk kaum rohaniwan, tetapi bisa dihidupi oleh siapa saja.  Karena dijiwai oleh Roh Kasih, hidup spiritual membawa kita keluar dari banyak hal kepada Kerajaan Allah.  Kita dibebaskan dari dorongan-dorongan duniawi dan hati kita diarahkan kepada hal yang penting.  Kita tidak lagi mengalami segala sesuatu, orang-orang atau pengalaman hidup, sebagai kecemasan yang tak berakhir, tetapi  mulai mengalami semua itu sebagai sarana kehadiran Allah dalam hidup kita, satu-satunya yang kita perlukan.

 

Ya Bapa, terima kasih Engkau telah mengutus Putra-Mu untuk menganugerahkan kepada kami relasi-Nya dengan-Mu, satu-satunya yang kami perlukan dalam hidup kami.