2 Desember 2023

PEKAN BIASA XXXIV – SABTU


Marilah kita bernyanyi Alleluya,
memuji Tuhan yang baik, yang membebaskan kita dari kejahatan
 Pembacaan dari khotbah St. Agustinus

 

Marilah kita bernyanyi Alleluya di dunia ini, saat kita masih dicengkam kecemasan, agar kelak kita dapat menyanyikannya di surga, apabila kita sudah bebas dari kesusahan.  Mengapa kita gentar di sini?  Apakah kamu pikir bahwa aku tidak gelisah bila membaca: “Bukankah hidup manusia di dunia penuh pencobaan?”  Apa kamu pikir bahwa aku tidak takut bila mendengar kata-kata, “Berjaga dan berdoalah, supaya kamu jangan masuk dalam pencobaan?”  Apa kamu pikir bahwa aku tidak cemas bila ada begitu banyak pencobaan di dunia ini, hingga diingatkan dalam doa Bapa Kami dengan permohonan: “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami?”

Setiap hari kita mengajukan permohonan, dan setiap hari kita berdosa.  Apakah kamu mau aku merasa aman, kalau setiap hari aku mohon pengampunan atas dosa, dan bantuan dalam menghadapi bahaya?  Karena dosa-dosaku di masa lampau, aku berdoa “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami, karena ada bahaya-bahaya yang menghadang di hadapanku.”  Segera kutambahkan, “Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan.”  Tetapi bagaimana orang dapat merasa aman, kalau mereka berseru bersama aku, “Bebaskanlah kami dari yang jahat?”  Meskipun demikian, saudara-saudara, sementara kita masih di tengah kejahatan ini, marilah kita bernyanyi Alleluya kepada Allah yang baik, yang membebaskan kita dari kejahatan.

Di sini juga, di tengah godaan dan pencobaan, kita dan semua orang harus bernyanyi Alleluya, “sebab Tuhan itu setia dan Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melebihi kekuatanmu,” seperti kata Paulus.  Maka, marilah kita bernyanyi Alleluya di dunia ini.  Manusia masih tetap pendosa, namun Tuhan itu setia.  Kitab Suci tidak mengatakan “Ia tidak membiarkan kamu dicobai”, tetapi “Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melebihi kekuatanmu.”  Apa pun pencobaan itu, Tuhan juga akan memberi jalan agar kamu bisa menanggungnya.  Kamu masuk dalam pencobaan, tetapi Ia juga akan memberi jalan keluar, agar kamu tidak dihancurkan dalam pencobaan.  Seperti tukang periuk membuat bejana, kamu harus dibentuk dengan sabda; kamu harus dibakar dalam kesulitan.  Tetapi kalau kamu masuk dalam pencobaan, ingatlah akan jalan keluar, sebab Tuhan itu setia: “Tuhan akan menjaga, apabila kamu masuk, dan apabila kamu keluar.”

Dan demikian pula, dalam hidup yang akan datang, kalau tubuh ini sudah tidak dapat binasa, kalau semua cobaan dan godaan sudah selesai, “tubuhmu memang mati” – karena apa?  Karena dosa.  Tetapi Roh itu hidup,” seperti kata Rasul Paulus. Mengapa?  “Karena kamu telah dibenarkan.”  Apakah kita harus meninggalkan tubuh kita yang mati?  Sama sekali tidak.  Dengarlah kata Paulus, “Apabila Roh Dia, yang membangkitkan Yesus dari maut, diam dalam kamu, Ia juga akan memberikan hidup kepada tubuhmu yang dapat mati.”  Sekarang ini tubuhmu menerima hidup dari jiwa, tetapi kemudian akan menerimanya dari Roh.

Alangkah bahagianya “Alleluya” surgawi, bila dinyanyikan dlm keadaan aman dan damai, tanpa ketakutan akan adanya lawan.  Tidak ada musuh di surga, kita tidak akan kehilangan sahabat. Pujian kepada Allah dinyanyikan di sana dan di sini.  Di sini dinyanyikan dalam kecemasan, di sana dalam keamanan; di sini oleh semua yang harus mati, di sana oleh semua yang akan hidup untuk selamanya; di sini dinyanyikan dalam harapan, di sana dalam pemenuhan harapan; di sini dinyanyikan oleh peziarah, di sana oleh mereka yang sudah tiba di tanah airnya sendiri.

Maka para saudara, marilah kita sekarang bernyanyi Alleluya, tidak untuk menikmati hidup santai, tapi untuk meringankan jerih payah kita.  Kamu harus  menyanyi sebagai peziarah yang menyanyi sepanjang perjalanan.  Hiburlah dirimu dalam pekerjaanmu dengan bernyanyi, jangan kamu bermalas-malas.  Menyanyilah agar perjalananmu lebih menyenangkan.  Menyanyilah,tetapi teruslah berjalan.  Apa yang kumaksud dengan “terus berjalan”?  Yang kumaksud, bergegaslah, majulah.  Majulah dalam keutamaan, bergiatlah dari yang baik kepada yang lebih baik, dalam iman yang benar dan kelakuan yang lurus.  Bernyanyilah dan teruslah berjalan!