Benih Hidup Ilahi

Dalam perjuangan hidup kita sehari-hari, kita mau hidup dengan sukacita dan kegembiraan sejati, tetapi pada kenyataannya, kita tidak luput dari pengalaman merasa lesu, kecewa karena hidup yang sulit bahkan merasa hati kita tandus dan kering seperti padang gurun yang gersang.  Bagaimana supaya padang gurun hati kita berbunga?  Sukacita kita ada dalam di dalam Tuhan, Dia yang ada, sudah ada dan akan ada sampai selamanya.  Dia ada untuk satu tujuan yaitu mencintai kita, menyelamatkan dan memberi hidup abadi kepada kita.

Beberapa hari lagi kita akan merayakan pesta inkarnasi, Allah menjadi manusia.  Dalam bacaan Misa untuk Minggu Adven ketiga ini, muncul Yohanes Pembaptis, dia yang mempersiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus dan memberi contoh hidup yang nyata.  Dia meninggalkan semuanya, mengikuti panggilan hatinya yang terdalam, pergi ke padang gurun untuk mendengarkan sabda Allah dan menghidupi sabda; dia melepaskan segala-galanya, tidak punya milik apa-apa lagi supaya sabda itu hidup dan dihidupi banyak orang.

Itu juga panggilan kita, panggilan pergi ke padang gurun hati untuk bertobat, membiarkan seluruh tanah hati kita ditembusi oleh kekuatan Allah seperti aliran hujan dan embun, agar benih Ilahi, yang telah ditanam di dalam hati kita dalam pembaptisan, membesar, bertunas, bersulur, bertumbuh dan berbunga.  Itulah yang diimani Gereja, bahwa pembaptisan adalah permandian dalam air  tempat “benih yang tidak fana”, yaitu sabda Allah, menghasilkan daya yang menghidupkan.

Kita mau tumbuh dengan menghidupkan Sabda dalam hidup kita, menyerahkan hidup kita pada Tuhan dan meletakkan Yesus Kristus sebagai pusat hidup kita.  Sangatlah penting kita mohon rahmat untuk membuka hati kita pada kedatangan Kristus dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan.  Dengan siap dan percaya, kita membiarkan hati kita pertama-tama dibersihkan dari dosa, batu-batu kesombongan dipecahkan, dikosongkan dari diri sendiri, dari kelekatan-kelekatan kita: untuk aman, untuk enak, untuk mapan, atau tidak mau sulit.  Kita hanya perlu percaya dan mau mati terhadap kebiasaan-kebiasaan kita yang berlawanan dengan kasih.

Dengan sungguh merendahkan diri, kita semakin mendekatkan diri pada kebenaran, tanpa takut mengenal diri apa adanya karena percaya Allah mengasihi, memandang ciptaan-Nya dalam kebenaran yaitu ada meterai kebaikan benih Ilahi di dalam diri kita yang telah kita terima saat pembaptisan.  Kita pun mau bersama Bunda Maria, berkata “Ya” pada karya Roh yang akan menganugerahkan kehidupan Allah kepada kita.  Membiarkan Dia menjelma dalam hidup kita, membiarkan kasih tumbuh dan menjadi motivasi penggerak seluruh ada kita, aktivitas-aktivitas kita dan menjadi Roh yang menjiwai hidup bersama kita.

 

Marilah kita berdoa: Ya Tuhan selamatkanlah kami dari dosa-dosa  kami dengan belaskasih pengampunan-Mu dan bantuan rahmat-Mu, agar benih Ilahi yang telah Kautanam dalam hati kami dapat bertumbuh dan berbunga, yang menjadikan kami manusia baru untuk  dapat hidup sebagai anak-anak-Mu seperti yang dikehendaki Bapa.  Amin.