6 Februari 2024

Peringatan St. Paulus Miki, dkk


Kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku
Pembacaan dari Kisah Martir Santo Paulus Miki dan kawan-kawannya,
ditulis oleh pengarang dari waktu itu

 

Ketika salib-salib sudah didirikan, sungguh mengagumkan betapa teguh mereka menanggapi kata-kata bersemangat yang diberikan oleh Pater Pasius dan Pater Rodriguez.  Pater Commisarius tetap hampir tidak bergerak, matanya menatap ke langit.  Bruder Martinus terus menerus bersyukur kepada Allah, menyanyikan mazmur dengan ayat “ke dalam tangan-Mu, Tuhan”.  Bruder Fransiskus Blanco juga bersyukur kepada Tuhan dengan suara nyaring, sedangkan Pater Gonzalves dengan sedikit mengangkat suara, mengucapkan doa Bapa Kami dan Salam Maria.

Saudara kita, Paulus Miki, melihat bahwa ia berdiri di atas mimbar yang paling mulia sebegitu jauh, menyatakan kepada semua yang datang melihat, bahwa ia seorang Jepang dan Yesuit.  Ia mengatakan kepada mereka, bahwa ia mati karena ia mewartakan Injil, dan bahwa ia bersyukur kepada Allah  karena kurnia begitu istimewa.  Kemudian ditambahkan kata-kata ini: “Karena sekarang saya sudah sampai pada saat seperti ini, kiranya tidak ada di antaramu yang mau percaya, bahwa saya sengaja mau berdusta.  Maka aku menyatakan terus terang kepadamu, bahwa tidak ada jalan lain untuk mencapai keselamatan di luar orang kristiani.  Karena jalan itu mengajarkan kepadaku untuk mengampuni musuh-musuhku dan semua yang menggunakan kekerasan terhadapku, aku dengan ikhlas memberi ampun kepada raja dan semua yang menyebabkan kematianku, dan aku minta kepada mereka, supaya mereka minta dibimbing untuk mendapatkan permandian Kristiani.

Lalu, melihat teman-temannya, ia mulai dengan membesarkan hati mereka dalam perjuangan akhir ini.  Pada wajah setiap dari mereka nampak kegembiraan besar, dan ini terutama nyata pada Aloysius.  Ketika salah satu dari orang Kristen lainnya berseru bahwa ia segera akan ada di Firdaus, ia menyambut seruan itu dengan gerakan tangan begitu gembira dan dengan seluruh tubuhnya, hingga ia menarik perhatian semua orang yang menonton.

Antonius, yang dekat dengan Aloysius, dengan mata menengadah ke langit, menyebut nama Yesus dan Maria tersuci, lalu menyanyikan mazmur “Laudate, pueri, Dominum”.  Ia belajar ini dari sekolah katekese di Nagasaki, sebab di antara tugas-tugas yang diberikan kepada anak-anak di sana, termasuk juga menghafalkan beberapa mazmur seperti tersebut tadi.

Yang lain tetap mengulang-ulang “Yesus, Maria”, dan wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan.  Beberapa di antara mereka menganjurkan kepada orang-orang yang berdiri di sekitar untuk hidup sebagai orang Kristen yang baik.  Dengan perbuatan ini dan lain sebagainya, mereka memberi bukti cukup nyata, bahwa mereka rela mati.

Lalu keempat algojo menarik tombaknya dari sarung yang biasa dipakai orang Jepang.  Ketika mereka melihat tombak yang mengerikan itu, seluruh umat berseru, “Yesus, Maria”.  Lebih lagi, ratap tangis mengharukan melambung ke langit.  Para algojo menghabisi setiap dari mereka dalam waktu singkat dengan tusukan satu dua kali.