23 Februari 2024

PEKAN I PRAPASKAH – JUMAT


Pertobatan dan Sabda
Pembacaan dari Khotbah ke-II St. Bernardus tentang Masa Prapaskah (3)

 

Ada baiknya bahwa askesis jasmani atau eksterior tidak dipandang rendah.  Karena, sebagaimana kamu ketahui, hal itu merupakan pertolongan yang sangat penting bagi pertobatan spiritual.   Tetapi saudara-saudara terkasih, aku menghendaki supaya kamu mengerti, bahwa puasa ini harus dijalankan tidak hanya dalam hal makanan,  melainkan juga terhadap setiap hal yang menyenangkan daging, dari semua godaan jasmani – Ya, kita harus berpuasa dengan jauh lebih keras terhadap dosa-dosa jiwa daripada berpuasa dalam hal makanan.

Bagaimanapun, aku akan menyesal melihat kamu berpuasa terhadap salah satu macam roti,  karena dengan demikian ada kemungkinan besar kamu akan “jatuh dalam perjalanan”.  Dan apabila kamu tidak mengerti roti mana yang kumaksudkan, biarkanlah kujelaskan kepadamu:  yaitu roti cucuran air mata.  Karena teks kita mengatakan: “Di dalam berpuasa, di dalam tangisan, dan di dalam dukacita.”  Dukacita dibutuhkan kalau kita sungguh menyesal semua dosa yang telah terjadi, sementara kerinduan akan kebahagiaan yang datang menyebabkan tangisan.  Seperti kata Pemazmur:  “Cucuran air mataku telah menjadi makananku siang dan malam, sebagaimana mereka mengatakan kepadaku setiap hari ‘dimana Allahmu?’ ”

Tuhan bersabda lagi melalui nabi-Nya: “Koyakkanlah hatimu dan bukan pakaianmu.”  Adakah seseorang diantara kamu, saudara-saudaraku dengan kehendak yang terlekat kepada salah satu obyek?  Biarkanlah ia mengoyakkan hatinya.  Biarkanlah ia memotongnya dengan pedang Roh, yaitu Sabda Allah.  Kuulangi lagi, biarkanlah ia mengoyakkan hatinya dan segera memutuskannya menjadi berkeping-keping.  Karena tidak mungkin baginya berpaling kepada Tuhan dengan seluruh hatinya sebelum hatinya dikoyakkan.  Sebelum kita mencapai persatuan dengan “Yerusalem yang dibangun sebagai kota yang rapat tersusun”, banyak hal yang sudah ditentukan bagi kita.  Seperti dikatakan dalam Kitab Kebijaksanaan, “Roh Tuhan majemuk”.  Maka barangsiapa ingin mengikuti Tuhan, harus mengalami panggilan hati yang bermacam-macam.