28 Februari 2024

PEKAN II PRAPASKAH – RABU


Bagaimanakah berdiam dalam naungan yang Mahatinggi
Pembacaan dari Khotbah Pertama St. Bernardus tentang Mazmur 90 (2)

 

Saudara-saudaraku, dengan merenungkannya mudah bagi kita membayangkan manusia yang hidup dalam naungan Allah, dibandingkan dengan membayangkan seseorang yang tidak mencari perlindungan dalam Allah.  Dengan demikian akan kita lihat bahwa ada tiga macam manusia: yaitu yang tidak menaruh harapan pada Allah, yang sudah putus asa akan Allah, dan akhirnya yang menaruh harapan akan Allah tetapi dengan cara yang sia-sia.

Jelas bahwa barangsiapa tidak berdiam dalam naungan Yang Mahatinggi tidak juga menaruh harapan pada-Nya, melainkan ia percaya akan akal budinya dan menguatkan diri dengan kekayaannya.  Saya kira bahwa sikap manusia seperti itu ada juga dalam hati kita.  Inilah manusia lama yang tidak mau tinggal di bawah naungan Yang Mahatinggi dan menaruh kepercayaannya pada kemampuan dan usahanya sendiri.  Memang bisa terjadi bahwa salah satu di antara kita paling giat dalam menghayati mati raga, dengan merasa diri kuat dalam penghayatan puasa dan jaga malam, kerja dan latihan-latihan yang lain, lalu menjadi sombong akan usahanya dan mulai menaruh kepercayaannya pada usahanya itu.  Dengan demikian dia akan semakin kehilangan rasa takut akan Allah dan mungkin tanpa sadar jatuh dalam godaan menganggur, menggerutu, menilai dengan tajam, dan memfitnah.  Bila dia berdiam di bawah naungan Yang Mahatinggi, dia akan menjaga diri sendiri dan berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai melawan Allah.

Juga ada macam lain yaitu orang yang tidak menaruh lagi harapan pada Allah: yaitu orang yang terus-menerus merenungkan kemalangannya sendiri dan menjadi patah semangat, sedih, penuh ketakutan dan tertutup atas dirinya sendiri.  Segala perhatian mereka dipakai untuk meneliti kelemahannya,  jadi mereka belum siap menceritakan dengan teliti segala kemalangan mereka.  Orang yang demikian tidak berada di bawah naungan Allah, dan sepertinya mereka juga tidak mengenal Allah karena tidak mampu melepaskan diri dari pikirannya sendiri dan sekurang-kurangnya kadang-kadang, memikirkan Allah.

Akhirnya ada orang yang menaruh kepercayaannya pada Allah tetapi tidak mendapatkan hasil dari harapan itu.  Mereka itu begitu yakin akan belas kasihan Allah sehingga melalaikan usaha apapun untuk menyesali dosa-dosanya.  Inilah harapan tanpa dasar, karena tidak didukung dengan cinta kasih.  Orang yang mengharapkan dengan sia-sia, mengabaikan segalanya, dia menjauhkan diri dari rahmat dan mengosongkan arti dari pengharapannya.

Tidak satu pun dari mereka yang dibicarakan ini berdiam di bawah naungan Yang Mahatinggi: yang pertama tinggal di bawah naungan kemampuannya; yang kedua tinggal di dalam rasa patah semangat; yang ketiga tetap duduk dengan enak dalam kejahatan.  Sebaliknya hanya orang yang menginginkan dengan segenap hati dan gentar akan kemungkinan kehilangan naungan Yang Mahatinggi itu, merekalah yang sesungguhnya berdiam di bawah naungan Allah.