9 Maret 2024

PEKAN III PRAPASKAH – SABTU


Kembalilah kepada Allah dengan mencintai Dia dengan segenap hatimu
Pembacaan dari Traktat Rohani Baldwinus dari Ford

 

Kita menerima dari Allah kekuatan untuk merindukan, memohon dan berharap.  Dari Dia kita dapat melihat pertolongan dari semua penderitaan kita, dukungan dalam semua kebutuhan kita, dan obat untuk semua penyakit kita. Siapa lagi yang kita lihat untuk semua ini selain Dia.  Dia meliputi kita dengan berkat-Nya yang berlimpah dan melalui berkat-Nya berusaha keras untuk merebut dari kita kasih kita. Maka sudah layak dan sepantasnya dan benar bahwa kita memberikan hati kita pada-Nya jika Dia berpikir pantas meminta itu. Dan Dia telah mengajar itu layak! “Berilah hatimu kepada-Ku,” kata-Nya kepada manusia.  Dia yang memintamu untuk memberi-Nya hatimu ingin dicintai dari hati.  Allah ingin seluruh hati kita untuk-Nya, sehingga itu dapat menarik kasih dunia dan hal-hal dunia kepada diri-Nya, sehingga di dalam Dia, semua yang lain yang sebelumnya menyenangkan manusia, seutuhnya dapat menjadi berkenan kepada Allah.

Kasih Allah mulai dengan bersama-sama memegang kebencian dan kejijikan. Tetapi itu kehendak Allah bahwa apa yang Dia benci dan pandang rendah dapat menjadi sama-sama kita benci dan pandang rendah juga.  Sejauh kita mencintai apa yang Allah benci, kita tidak berada dalam damai dengan Dia, tetapi jika kita menemukan diri kita bersatu bersama Allah dalam membenci kejahatan, maka kita mencintai Allah dari hati.  Kita mencintai Allah dari hati jika kita ingat baik itu kebaikan yang telah kita terima dari Allah maupun kejahatan yang kita lakukan melawan Allah, jika kita kembali bersyukur atas kebaikan dan melakukan pertobatan atas kejahatan, dan jika kita berdamai dengan Allah dengan kembali dari perbantahan menuju kesatuan.  Inilah tingkat pertama dari kasih: pertobatan hati dari kejahatan menuju kebaikan, dari kesombongan menuju kebenaran, dari hal-hal yang tidak menyenangkan Allah menuju ke hal-hal yang menyenangkan Allah.

Sebagai contoh Santo Paulus memperlihatkan kepada kita bagaimana hatinya telah berbalik kepada Allah melalui kejijikannya pada kesombongan dengan berkata, “Apakah keuntungannya bagiku, aku telah kehilangan segala-galanya demi Kristus.”  Melalui ini kita mulai masuk kedalam kesatuan dengan Allah dan memberi hati kita pada Allah.  Dia memperlihatkan rahmat-Nya pada kita, tetapi Dia juga menuntut kita, kalau tidak kita membayar kembali rahmat-Nya dengan luka-luka dan dosa kita melawan Dia yang adalah Penderma kita.  Jika kita membenci dengan segenap hati kejahatan yang Dia benci, maka sesuai kemampuan kita, kita mencintai Allah dengan segenap hati.  Inilah mengapa nabi berkata: “Engkau yang mencintai Tuhan, bencilah kejahatan”.