20 Maret 2024

PEKAN V PRAPASKAH – RABU


Marilah kita bercita-cita untuk berkenan pada Allah
Pembacaan dari tulisan-tulisan Santo William dari St. Thierry

 

Aku minta padamu saudara-saudara, berkat belas kasihan Allah, persembahkanlah tubuhmu kepada Allah sebagai kurban yang hidup dan berkenan kepadanya.  Kurban yang benar adalah setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan tujuan agar kita semakin bersatu dengan Allah.  Belas kasihan sendiri bukan kurban jika tidak dilaksanakan demi Allah.  Untuk alasan ini manusia sendiri ketika ia mempersembahkan dirinya pada Allah adalah kurban sejauh ia mau mati pada hal-hal duniawi untuk hidup demi Allah.

Tubuh kita adalah kurban ketika kita menyangkal keinginan-keinginan dagingnya demi Allah.  Oleh karena itu jika tubuh adalah kurban ketika ia melakukan yang baik dan benar demi Allah, betapa lebih lagi jiwa akan menjadi kurban yang harum ketika jiwa dipersembahkan kepada Allah dengan membakar semua kekacauannya akibat dosa dalam api cinta-Nya sehingga jiwa bisa diubah menjadi kurban yang berkenan pada Allah karena telah menerima keindahannya berkat belaskasihan-Nya ini.

Rasul Paulus menasehati: janganlah menyesuaikan diri dengan dunia ini, tetapi biarkanlah dirimu dibentuk dalam keadaanmu yang baru sehingga kamu mengetahui apa yang baik dan berkenan kepada Allah dan mengetahui kehendak-Nya dengan sempurna.  Karena perbuatan-perbuatan belas kasihan adalah kurban yang sejati, maka berbelas-kasihanlah pada jiwa sendiri sehingga itu berkenan pada Allah dan lakukanlah belas kasihan itu juga kepada sesamamu demi Allah.

Perbuatan belas kasihan  dilakukan agar kita sungguh-sungguh dibebaskan dari kemalangan dan  diberkati oleh Allah.  Dan ini tidak terjadi kecuali jika perbuatan baik itu dilakukan demi Allah.  Seluruh himpunan para kudus telah dipersembahkan sebagai kurban universal kepada Allah melalui kurban Sang Imam Agung yang telah mempersembahkan diri-Nya di salib kepada Bapa.  Demikian juga kita sekarang telah dijadikan kurban yang benar di dalam kurban Yesus tersalib, yang telah rela menderita sengsara, mati dan bangkit lagi.  Dia telah mempersembahkan kurban ini sehingga Ia layak disebut pengantara, Imam dan kurban.