Gedono
26 April 2024

Peringatan St. Rafael Arnaiz Baron

(Rahib Trappist)


Kesederhanaan Hati
Dari tulisan St. Rafael Arnaiz Baron

 

Saya tahu, saudara, jalan yang engkau tempuh adalah hidup sederhana.  Allah tidak meminta dari kita lebih daripada kesederhanaan di luar dan cinta di dalam.  Sungguh benar bahwa jalan Allah sangat mudah dan sederhana bila kita menempuhnya dengan penuh semangat percaya dan dengan hati bebas terarah pada Allah.

Sungguh berbahagialah Trappist yang bukan hanya seorang Trappist lahiriah belaka, melainkan yang hidup batinnya ditandai oleh kesederhanaan hati yang menjadikannya seorang Trappist sejati.  Orang-orang dunia bisa menganggap kita agak berbelit-belit.  Saya sendiri tidak tahu bagaimana menerangkannya, tetapi saya mulai menyadari apa yang dimaksud oleh Yesus ketika Dia berkata: “Bila kamu tidak menjadi seperti anak kecil…”

Jalan Tuhan adalah sederhana, kuk-Nya mudah dan beban-Nya pun ringan.  Kita mati terhadap dunia supaya dilahirkan bagi Allah.  Dalam penyangkalan diri, melalui hidup dalam kesunyian dan keheningan, akan muncul luapan sukacita yang berasal dari kesederhanaan dan kejujuran.  Mereka yang mengikuti Kristus menghayatinya melalui jalan salib, saya kira bila kita mencintai salib, itu semua akan kita peroleh.

Allah senantiasa memperkenankan cahaya-Nya menyinari siapa saja yang mencintai dan mencari-Nya dengan kesederhanaan hati.  Namun kita sering menyusuri jalan kita melalui banyak lorong yang berliku-liku, sebelum sampai pada jalan lurus yang sederhana.  Tidak ada yang lebih menyesakkan daripada hal-hal yang berbelit-belit!  Betapa kita umat manusia suka membuat segala sesuatu menjadi rumit bagi diri kita sendiri!  Kita perlu mengendalikan diri kita dengan praktek-praktek keutamaan terus menerus, karena dengan cara hidup yang berbelit-belit kita mengusir jauh segala sesuatu yang sederhana.

Berkali-kali kita gagal menangkap keagungan yang sangat tersembunyi dalam tindakan sederhana.  Kita ingin mencari keagungan di dalam yang berbelit-belit dan mengira bahwa hanya hal-hal yang sulit sajalah yang patut dipersembahkan.

Barangkali saya tidak membuat jelas, tetapi sekarang saya mengerti jelas.  Yang semula saya lihat serba membingungkan dan berbelit-belit, sebenarnya jelas dan sederhana.  Bukan seakan-akan saya telah mencapai keutamaan, bukan pula seolah-olah pengetahuan saya akan Allah dan hidup saya di dalam roh sepenuhnya jelas, tetapi yang telah saya mengerti ialah, bahwa untuk mencapai hal-hal tersebut, saya perlu bebas dari hal-hal yang berbelit-belit, dari pemutarbalikan, dari spekulasi dan segala metode teknis.

Saya kini mengerti bahwa kita sampai pada Allah justru dengan sebaliknya.  Pengetahuan sejati akan Dia datang melalui kesederhanaan hati dan kejujuran.  Tindakan cinta sama sekali tidak sulit.  Yang sungguh sulit adalah usaha untuk memperoleh pengetahuan akan Allah dengan menyelami misteri-misteri-Nya.  Tindakan cinta membawa kita pada Allah, sedangkan jalan yang lain tidak membawa kita ke mana pun.

Keutamaan itu memang untuk orang suci, agak sulit untuk dipraktekkan, tetapi tidak sesulit mengikuti suatu perlombaan atau kuliah di perguruan tinggi.  Tekad yang sederhana dan keterlibatan kehendak, itu sudah cukup.  Lalu mengapa kadang-kadang kita kehilangan keutamaan?  Sebab kita tidak sederhana.  Kita membuat tujuan kita berbelit-belit.  Karena kelemahan kehendak kita membuat semua yang kita kehendaki menjadi sulit.  Kita memupuk kelemahan itu dengan membiarkan kehendak kita memuaskan dirinya dengan hal-hal yang menyenangkan, yang menghibur, yang mengalihkan perhatian dan sering itu hanyalah nafsu belaka.

Seandainya ada orang yang mau menjelaskan kepada saya apa yang harus saya lakukan untuk menjadi suci dan berkenan pada Allah, niscaya dengan bantuan Allah dan Bunda-Nya yang tersuci, saya akan melaksanakannya.

Dengan Yesus di samping saya, tidak ada sesuatu pun yang sulit.  Jalan menuju ke kesucian menjadi tampak sederhana bila kita terus memandang Dia.  Rupanya kesucian tercapai dengan maju ke depan sambil meninggalkan segala sesuatu di belakang, daripada dengan mencari hal-hal baru.  Selama kita maju ke depan sambil memalingkan pandangan kita dari cinta tak teratur pada diri sendiri dan ciptaan, kita akan semakin dekat kepada satu-satunya cinta sejati, satu-satunya dambaan, satu-satunya aspirasi hidup ini: kesucian sejati yaitu Allah.

 


Rafael Arnaiz Baron, lahir di Burgos 1911.  Ia adalah mahasiswa arsitek di Madrid, Spanyol.  Tahun 1934, ia meninggalkan studi dan kecemerlangan hidupnya dan masuk novisiat Trappist di San Isidro de Duenas, di mana ia meninggal hanya sesudah 4 tahun pada 26 April 1938, karena menderita penyakit yang tak tersembuhkan.  Dalam hidupnya yang singkat itu, ia telah melewati perjalanan doa yang sangat khusus, yang telah menghantarnya kepada puncak tertinggi pengalaman kontemplasi.  Ia dinyatakan sebagai Beato tanggal 27 September 1992 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dijadikan Santo pada 11 Oktober 2009 oleh Paus Benediktus XVI.