22 Mei 2024

PEKAN BIASA VII – RABU


Carilah barang-barang yang ada diatas
Pembacaan dari Homili  St. Hironimus tentang Kitab Pengkhotbah

 

Setiap orang yang dianugerahi Allah kekayaan, harta benda, dan kekuasaan untuk menikmatinya dan menerima keadaannya, serta menemukan sukacita  dalam pekerjaaannya, orang itu telah menerima karunia Allah!  Ia tidak akan memikirkan hari-hari hidupnya yang berlalu, karena Tuhan telah memenuhi hatinya dengan kegembiraan.  Bandingkanlah dengan orang  yang cemas akan kekayaannya dan penuh  kegelisahan dengan menimbun harta fana.

Jauh lebih baik menikmati apa yang kamu punya.  Sebab orang  yang pertama,  paling tidak mengalami sukacita dalam apa yang dia punya, tetapi yang kedua, menderita karena kekhawatiran yang bertubi-tubi.  Alasannya ialah bahwa kemampuannya untuk menikmati kekayaan adalah anugerah Allah; ia tidak akan menghitung hari-hari hidupnya, karena Allah memperkenankannya untuk  menikmati hidup; tanpa kesedihan atau kecemasan, ia dipenuhi dengan kesenangan saat ini.  Jika Tuhan memanggil orang itu waktu hatinya berbahagia, dan tidak dalam kesusahan, ia tidak akan dikacaukan oleh kegelisahan, bila direnggut dari  kesenangan dan kenikmatan saat ini.

Tetapi lebih baik makanan dan minuman rohani dipahami  sebagai anugerah Allah, sesuai kata-kata Santo Paulus, dan merenungkan kebaikan dalam segala karya-Nya.  Dan inilah tugas kita; kita harus bergembira dalam semangat dan kerja kita.  Meskipun itu memang baik! Tetapi kalau Kristus belum dinyatakan di dalam hidup kita, itu belum baik sepenuhnya.

“Segala jerih payah manusia itu untuk mulutnya, tetapi rohnya akan tetap lapar.  Karena apakah kelebihan orang yang berhikmat daripada orang bodoh, kecuali bahwa dia tahu bagaimana harus hidup? Dan apakah kelebihan orang miskin, yang tahu berperilaku di hadapan orang yang hidup?” Segalanya, hasil karya manusia di dunia ini dihabiskan di dalam mulutnya, dikunyah dengan gigi, lalu masuk dalam perut untuk diolah.  Juga apabila sesuatu menyenangkan selera, nikmatnya hanya selama ia bisa merasakannya.

Sesudah itu semua, jiwa orang yang makan belum merasa puas! Mungkin karena ia menginginkan lagi apa yang telah dimakannya – baik orang berhikmat maupun orang  bodoh tidak bisa hidup tanpa makanan.  Dan orang miskin hanya mencari makanan sekedar untuk dapat menghidupi badannya, supaya ia tidak mati kelaparan.  Atau mungkin karena jiwa mereka tidak memperoleh apa-apa yang berguna dari makanan untuk tubuh ini.  Makanan itu biasa bagi orang berhikmat dan orang bodoh, sedangkan bagi orang miskin makanan kekayaan.

Tetapi baiklah, lebih baik kita mengerti hal ini dari Si Pengkhotbah.  Dia yang terpelajar dalam memahami  Kitab surgawi, dia tahu bahwa baik mulut maupun jiwa dipuaskan selama dia  masih ingin untuk belajar.  Dalam hal ini orang berhikmat mempunyai kelebihan daripada orang bodoh.  Kalau si bijak  tahu bahwa ia miskin (dan yang miskin disebut Terberkati dalam Injil),