29 Mei 2024

PEKAN BIASA VIII – RABU


Seluruh harapanku terletak pada besarnya belas kasih-Mu
Pembacaan dari Pengakuan St. Agustinus

 

Di manakah Kau kutemukan hingga kukenali Engkau? Sebab Engkau belum ada dalam ingatanku, sebelum Engkau kukenal.  Jadi, di manakah Kau kutemukan  sehingga kukenal Engkau,  kalau tidak  dalam diri-Mu di atasku?   Kami menjauh, kami mendekat, dan tidak di mana-mana, tidak di tempat apa pun.  Engkau, Sang Kebenaran, Engkau bersemayam di mana-mana bagi semua orang yang bertanya kepada-Mu, sekalipun yang mereka tanyakan hal-hal yang berbeda.

Engkau menjawab dengan jelas, namun tidak semua mendengar dengan jelas.  Semua bertanya kepada-Mu mengenai apa saja yang mereka kehendaki,  namun mereka tidak selalu mendengar apa yang mereka kehendaki.  Hamba-Mu yang terbaik ialah dia yang lebih menanti-nanti, bukannya mendengar dari-Mu apa yang dikehendakinya sendiri, melainkan menghendaki apa yang didengarkannya dari-Mu.

Betapa lambat aku mencintai Engkau, O Keindahan, setua lagi semuda ini, betapa lambat Kau kucintai!  Waktu itu Engkau ada di dalam diriku, dan aku ada di luar, dan di sanalah aku mencari Engkau.  Keanggunan benda-benda yang Engkau buat, itulah yang kuserbu, aku yang kehilangan keanggunan.  Engkau ada bersamaku, tetapi aku tidak bersama-Mu.  Aku dihalangi oleh barang-barang itu, jauh dari-Mu; namun seandainya mereka itu tidak berada di dalam diri-Mu, mereka itu tidak ada sama sekali.  Engkau telah mengajak dan memanggil dan berseru kepadaku, memecahkan ketulianku! Engkau memancarkan cahaya-Mu, bersinar cemerlang  dan menghalau kebutaanku! Engkau menghembuskan bau harum kepadaku; Aku menghirupnya,  dan aku terengah-engah mendambakan-Mu.  Aku telah mencicipi-Mu, dan sekarang aku lapar dan haus.  Engkau menyentuh aku, dan aku berkobar  mendambakan kedamaian-Mu.

Apabila nanti aku telah dipersatukan dengan Dikau, dengan seluruh jiwa ragaku, bagiku di mana pun tidak akan ada  penderitaan dan kesusahan.  Hidupku seluruhnya akan penuh dengan kehidupan-Mu! Engkau membangkitkan orang yang Kaupenuhi! Namun, sekarang, karena Kauringankan orang yang Kauisi, karena aku belum terisi dengan diri-Mu, aku menjadi beban bagi diriku sendiri.  Kenikmatan hidup ini, yang layak disambut dengan tangis,  bertentangan dengan kemurungan yang layak disambut dengan kegembiraan, dan aku tidak tahu kemenangan ada pada pihak manakah.

Aduh,  celakalah aku! Ya Tuhan, kasihanilah aku! Sebab ada juga pertentangan antara kedukaan yang jahat dan kesenangan yang baik, dan aku tidak tahu, kemenangan ada di pihak mana.  Celakalah aku! Ya Tuhan, kasihanilah aku!

Lihat, inilah luka-lukaku! Tidak kusembunyikan! Aku tidak mau menyembunyikan luka-lukaku! Engkau tabib, aku sakit! Engkau penuh belas kasih, aku sengsara.  Bukankah kehidupan manusia di bumi ini suatu pencobaan? Siapakah menghendaki  kesusahan dan penderitaan? Engkau memerintahkan  kami untuk menanggungnya, bukan mencintainya.  Tidak ada orang mencintai apa yang dideritanya, meskipun tidak mustahil ia menanggungnya dengan cinta.  Sebab meskipun ia dengan suka menanggungnya, niscaya ia lebih suka kalau tidak ada apa pun yang harus ditanggungnya.

Dalam kemalangan aku menginginkan kemakmuran, dalam kemakmuran kukhawatirkan kemalangan.  Adakah tempat di antara keduanya, dalam  kehidupan manusia yang bukan cobaan? Celakalah kemalangan-kemalangan dunia ini, sekali dua tiga kali celaka, karena takut akan sengsara; celaka karena kemakmuran pun dapat binasa.  Memang celaka ada di dalam kemalangan dunia! Lebih celaka lagi karena dalam kemalangan itu kita mendambakan kebahagiaan, karena kemalangan itu sendiri berat, dan dapat mematahkan kesabaran.  Bukankah hidup manusia di bumi ini merupakan pencobaan tanpa henti?

Sungguh, harapanku seutuh-utuhnya hanyalah dalam kebesaran belas kasih-Mu.