Rabu Pekan III Prapaskah
Kesatuan dengan Kristus, Kesatuan dengan Gereja
Liturgi seperti yang diajarkan oleh para Bapa adalah kerja dari hidup yang aktif. Itu menyiapkan kita untuk kontemplasi, yang merupakan kesempurnaan akhir dari kepribadian Kristiani, karena liturgi merupakan realisasi dari kesatuan intim yang sempurna dengan Kristus “dalam satu Roh.” Paradoks tertinggi dari kepribadian Kristiani adalah karena seseorang yang “ditemukan dalam Kristus Yesus” dan lalu “kehilangan” semua yang dapat dihargai secara duniawi, seperti “diri”nya sendiri. Hal ini berarti pada saat yang sama menjadi diri sendiri dan Kristus. Tetapi hal ini tidak boleh dianggap semata-mata karena inisiatif pribadi, “doa pribadi” atau usaha pribadi. Kontemplasi adalah anugerah dari Allah, diberikan di dalam dan melalui Gereja-Nya, dan melalui doa Gereja. St. Antonius telah dibimbing ke padang gurun bukan oleh suara pribadi tetapi oleh Sabda Allah, yang diwartakan di dalam Gereja di desa Mesirnya dalam nyanyian Injil dalam bahasa Koptik – contoh klasik dari liturgi membuka jalan pada hidup kontemplasi! Tetapi liturgi tidak dapat memenuhi fungsi ini jika kita salah mengerti atau meremehkan kepentingan nilai spiritual doa publik Kristiani. Jika kita berpegang teguh pada gagasan “pribadi” yang belum matang dan terbatas, kita tidak akan pernah dapat membebaskan diri kita dari ikatan individualisme. Kita tidak akan pernah menyadari bagaimana Gereja membebaskan kita dari diri kita sendiri dengan penyembahan publik, sifat umum yang cenderung menyembunyikan kita dari “wajah Allah yang tersembunyi.”
Mendengarkan Sabda Allah dalam komunitas
Sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu …… Ingatlah, aku telah mengajarkan kepadamu ketetapan dan peraturan, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi hikmatmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa. Bila mendengar segala ketetapan ini, mereka akan berkata: Memang bangsa besar manakah yang mempunya ilah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita berseru kepada-Nya? Bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini? Tetapi, waspadalah dan berhati-hatilah senantiasa, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah semuanya itu kepada anak cucumu.
(Ulangan 4:1, 5-9)
Doa
“Sabda” yang didengar oleh St. Antonius, sang pertapa, dalam liturgi yang telah mengubah hidupnya adalah perintah-Mu: “Barangsiapa hendak menjadi murid-Ku, serahkan segala yang kamu miliki dan datanglah ikutilah Aku.” Tuhan Yesus, berilah aku “Sabda” bagi keselamatanku. Dengan merayakan Ekaristi, kami semua mendengarkan bersama-sama “Sabda,” biarkan aku mendengar apa yang Engkau minta dariku pada saat ini dalam hidupku, pada tahap perjalananku ini menuju kedewasaan dalam Kristus. Minggu depan, dan setiap hari Minggu, jagalah aku untuk perhatian pada “Sabda”-Mu bagiku.
Jurnal Prapaskah
Sejak mulai masa Prapaskah, sabda apa yang kamu dengar berguna bagi keselamatanmu?