7 Agustus 2025

PEKAN BIASA XVIII – KAMIS


Cinta itu kuat seperti maut
Pembacaan dari uraian Baldowinus dari Canterbury

Maut itu kuat; ia berkuasa merenggut  anugerah hidup dari kita.  Cinta itu kuat; ia berkuasa untuk memulihkan kita ke dalam  penghayatan hidup yang lebih baik.  Maut itu kuat, cukup kuat untuk melucuti kita dari tubuh ini.  Cinta itu kuat, cukup kuat untuk merebut dari maut rampasannya, dan mengembalikannya kepada kita.  Maut itu kuat; karena tidak ada orang dapat melawannya. Cinta itu kuat, sebab ia dapat menang atas maut, dapat menumpulkan sengatnya, melawan serangannya dan membatalkan  kemenangannya.  Akan tiba waktunya maut akan diinjak-injak, saat akan dikatakan, “Hai maut, di manakah sengatmu? Hai maut, di manakah seranganmu?”

“Cinta itu sekuat maut”, sebab cinta Kristus adalah kematian maut.  Maka Ia berkata, “Hai maut, Aku akan menjadi kematianmu; hai neraka, Aku akan mencengkeram engkau kuat-kuat.”  Bahkan cinta kita, yang mencintai Kristus, adalah sekuat maut, yaitu semacam maut yang mematikan hidup kita yang lama, menghapuskan kejahatan, dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan maut.

Cinta kita kepada Kristus itu merupakan semacam balasan, meskipun tidak sama dengan cinta-Nya kepada kita; merupakan turunan, serupa dengan cinta-Nya.  Dialah yang pertama mencintai kita, dan dengan teladan cinta yang diberikan-Nya kepada kita, Ia menjadi meterai, yang membentuk kita menurut citra-Nya, menanggalkan keserupaan dengan yang duniawi dan mengenakan yang surgawi; mencintai Dia seperti kita dicintai-Nya.  Dalam hal ini Ia meninggalkan teladan bagi kita, agar kita dapat mengikuti jejak-Nya.

Itulah sebabnya Ia berkata, “Taruhlah Aku sebagai meterai pada hatimu.”  Seakan-akan Ia berkata, “Cintailah Aku, seperti Aku  mencintai  kamu: bawalah Aku dalam pikiranmu, dalam ingatanmu, dalam dambaanmu; dalam keluh kesahmu, dalam rintihanmu, dalam tangisanmu.  Ingatlah, hai manusia, dalam keadaan apa Aku membentuk engkau; betapa Aku menyukaimu melebihi semua ciptaan lainnya, mengangkat martabatmu untuk memuliakanmu, bagaimana Aku telah  memahkotaimu dengan kemuliaan dan semarak, membuatmu sedikit lebih rendah dari pada para malaikat, dan meletakkan semua di bawah kakimu.

Jangan hanya ingat akan karya-karya agung yang telah Kuperbuat bagimu, tetapi penghinaan dahsyat yang Kuderita demi engkau; dan lihatlah apakah engkau tidak berbuat jahat melawan Aku, apakah engkau tidak mencintai Aku.  Sebab siapa mencintai engkau seperti Aku  mencintaimu? Siapakah yang menciptakan engkau, jika bukan Aku?  “Siapa yang menebus engkau, jika bukan Aku?”

Tuhan, ambillah dariku hati batu ini,  hati yang mengerut dan tidak disunat; ambillah hatiku itu dan berilah aku hati baru, hati daging yang lembut, hati yang murni.  Engkau membersihkan hati kami dan mencintai hati yang bersih; milikilah hatiku, dan tinggallah di dalamnya; peganglah dan penuhilah itu.  Engkau melebihi apa yang paling tinggi dalam diriku, namun ada di sanubariku yang paling dalam! Pola keindahan dan meterai kesucian, bentuklah hatiku menjadi serupa dengan-Mu; bentuklah hatiku di bawah kerahiman-Mu, ya Allah hatiku dan Allah bagianku untuk selamanya.