Menakjubkan! Allah masuk ke dalam keluarga manusia. Tuhan taat kepada manusia! Allah menjadi ‘anak’ -rela menjadi kecil- mempercayakan seluruh hidup-Nya ke dalam tangan manusia, tergantung kepada manusia untuk melanjutkan karya keselamatan-Nya. Allah menyerahkan diri ke dalam tangan kita dalam komuni Ekaristi. Yesus taat kepada Bapa melalui ketaatan-Nya kepada manusia ‘Bunda Maria dan Bapa Yosef – orang tua-Nya’.
Hidup kita tepat seperti itu: belajarlah taat kepada Allah Bapa dengan saling mentaati, saling percaya, saling mencintai dalam kebenaran. Yesus menerima kenyataan hidup-Nya sebagai manusia, mengalami juga ‘tidak dimengerti’, mengalami perjuangan untuk ‘taat’. Di taman Getshemani, walaupun Yesus tahu bahwa sengsara, penderitaan yang harus ditanggung-Nya adalah bagian dari perutusan-Nya, namun Yesus pun harus berjuang untuk menerima kenyataan itu. Melalui ketaatan, kita masuk ke dalam dimensi keserupaan penuh dan konformasi dengan Kristus. Ketaatan merupakan bagian dari relasi utama antara Putra dan Bapa. Untuk dapat masuk dalam jantung relasi keputraan ini, kepada manusia diminta untuk menyetujui hidup yang diberikan padanya; mengenali anugerah yang diterima. Menjadi kanak-kanak yaitu kemampuan untuk terus menerus menengadah ke atas, kepada Bapa, untuk menerima secara terus-menerus dari pada-Nya nafas yang memberi hidup.
Hidup keluarga kudus adalah hidup kita juga, yang mengajarkan untuk menerima misteri seorang lain yang berbeda dengan aku, tetapi sama-sama disatukan dalam Kasih, pembaptisan, panggilan kekudusan melalui jalan hidup bersama ini, dalam keluarga ini. Tuhan mendidik kita untuk mencintai bukan menurut ‘perasaan’ atau keinginan kita, tapi mencintai dengan kerendahan hati, dengan ‘menderita’, mengorbankan ego kita. Dengan bersyukur dan sadar bahwa setiap orang adalah anugerah yang diberi Allah bagi keselamatan kita.