9 Januari 2026

Jumat sesudah Penampakan Tuhan


Misteri Pembaptisan Tuhan
Pembacaan dari Khotbah St. Maksimus dari Turin

 

Di dalam Injil diceritakan bahwa Tuhan menuju ke Sungai Yordan untuk dibaptis.  Juga dituturkan bahwa Ia sendiri ingin disucikan oleh rahasia-rahasia surgawi yang terkandung dalam sungai itu.  Pemikiran manusia menuntut, agar sesudah hari kelahiran Tuhan, pada waktu yang sama di dalam tahun dirayakan juga pembaptisan-Nya.  Meskipun sudah ada tahun-tahun berselang, perayaan ini layak menyusul, dan saya kira harus disebut pesta kelahiran juga.  Pada hari Natal Ia lahir untuk manusia, sekarang Ia lahir kembali dalam sakramen; dulu Ia lahir dari seorang perawan, sekarang Ia dilahirkan dalam suatu misteri.

Sewaktu Ia lahir sebagai manusia, Maria, ibu-Nya, membelai Dia dalam pangkuannya.  Sekarang, disaat Ia dilahirkan dalam suatu misteri, Allah Bapa memeluk-Nya dengan suara, karena Bapa berkata, “Inilah Putra-Ku terkasih, kepada-Nya Aku berkenan.  Dengarkanlah Dia.” Jadi ibu menimang buah kandungannya dalam pelukan mesra, Bapa memperhatikan Putra-Nya dengan kesaksian penuh cinta.  Ibu-Nya menyerahkan Dia kepada para sarjana untuk disembah, Bapa menyatakan-Nya kepada para bangsa supaya mereka bersujud.  Maka dari itu Tuhan Yesus datang untuk dibaptis, dan ingin tubuh-Nya dibasuh dengan air.

Mungkin ada orang bertanya, “Ia begitu suci!  Mengapa Ia ingin dibaptis?”  Dengarkanlah baik-baik!  Kristus dibaptis bukan supaya disucikan di dalam air, tetapi supaya air sendiri menjadi suci karena Dia.  Dan dengan penyucian itu, Ia dapat menyucikan aliran-aliran air yang disentuh-Nya.  Sebab penyucian itu merupakan penyucian unsur lain secara lebih agung.  Jadi ketika Penyelamat dibaptis, pada waktu itu juga semua air sudah dibersihkan untuk pembaptisan kita.  Dengan jalan itu rahmat penyucian dapat disampaikan kepada para bangsa yang datang kemudian.  Maka Kristus mendahului dibaptis, agar umat Kristen dapat mengikuti-Nya penuh kepercayaan.

Saya mengerti arti misteri ini; tak ubahnya seperti tugu api yang menyeberangi Laut Merah.  Tugu api menyeberangi Laut Merah lebih dahulu, agar putra-putra Israel dapat menempuh perjalanan penuh bahaya itu tanpa takut.  Tugu itu sendiri lebih dulu menyeberangi air, untuk menyiapkan jalan bagi mereka yang berjalan di belakangnya.  Peristiwa itu, menurut kata Paulus, nyata merupakan lambang pembaptisan.  Jelas pembaptisan itu sudah dilakukan dalam suatu cara sewaktu awan menaungi manusia, dan ombak mengangkatnya.  Tetapi semua yang dilakukan ini masih tetap Kristus Tuhan yang sama.  Seperti dulu Ia mendahului putra-putra Israel dalam tugu api, demikian sekarang Ia mendahului umat Kristen dalam tugu tubuh-Nya.  Inilah tugu yang sama, yang dahulu memberi terang kepada mata mereka yang ikut, dan sekarang memberi terang kepada hati yang percaya; yang dulu di tengah gelombang laut membuat jalan yang mantap, sekarang dalam pembasuhan meneguhkan langkah-langkah iman.