10 Januari 2026

Sabtu sesudah Penampakan Tuhan


Perkawinan antara Kristus dan Gereja
Pembacaan dari Khotbah Mgr. Faustus dari Riez tentang Penampakan Tuhan

 

Pada hari ketiga ada perkawinan.  Perkawinan ini merupakan doa dan kegembiraan karena keselamatan manusia.  Perkawinan ini dirayakan pada hari ketiga, mengingat makna yang terkandung dalam angka itu; juga guna menyatakan iman akan Tritunggal, atau karena iman yang datang dari kebangkitan pada hari ketiga.

Pada bagian Injil lain kedatangan kembali anak yang bungsu, lambang pertobatan bangsa-bangsa kafir, juga dirayakan dengan bunyi-bunyian dan pakaian pengantin.  “Bagaikan pengantin keluar dari tempat peraduannya” Ia turun ke dunia untuk dikawinkan dengan Gereja yang harus dikumpulkan dari segala bangsa, setelah Ia mengenakan tubuh manusia.  Gereja ini sekaligus diberi mas kawin dan mendapatkan uang: Mendapatkan mas kawin, ketika Allah dipersatukan dengan manusia, mendapatkan uang, ketika Ia dikorbankan demi keselamatan manusia.  Mendapatkan uang kami artikan sebagai tebusan sekarang, mas kawin kami artikan sebagai hidup kekal.  Maka bagi mereka yang melihat, hal-hal ini merupakan mukjizat, tetapi bagi mereka yang mengerti, ini merupakan sakramen.  Sebab jika sungguh kita perhatikan, pada air itu sendiri nampak kesamaan antara pembaptisan dan kelahiran kembali.  Sebab di situ sesuatu hal nyata-nyata diubah menjadi sesuatu yang lain dalam dirinya.  Di situ barang ciptaan rendah dengan perubahan tersembunyi berganti menjadi sesuatu yang lebih tinggi.  Di situlah misteri kelahiran kedua dilaksanakan.  Air tiba-tiba diubah, dan kemudian harus mengubah manusia.

Maka sewaktu Kristus berkarya di Galilea, air diubah menjadi anggur.  Artinya: hukum Taurat mundur, diganti kurnia rahmat; bayangan disisihkan, kebenaran dinyatakan; perkara jasmani dibandingkan dengan yang rohani; ketetapan-ketetapan lama diganti oleh Perjanjian Baru, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus, “Yang lama sudah berlalu, dan lihat, semua sudah dijadikan baru!”  Air yang disimpan dalam bejana itu tanpa kehilangan suatu unsur pun, telah menjadi sesuatu yang baru; air baptis.

Demikian juga hukum tidak hilang, ketika dinyatakan oleh kedatangan Kristus, melainkan mulai berkembang.  Maka ketika anggur habis, disediakan anggur lain.  Memang Perjanjian Lama itu anggur baik, tetapi yang baru lebih baik.  Perjanjian Lama yang ditaati oleh orang Yahudi, lenyap dalam huruf; Perjanjian Baru, yang diterapkan pada kita, mengembalikan kemanisan hidup di dalam rahmat.

“Anggur baik” artinya perintah baik.  Perintah hukum memang baik, tetapi perintah Injil lebih baik dan lebih kuat.  Hukum memerintahkan “Cintailah sesamamu dan bencilah musuhmu”.  Tetapi Injil memerintahkan: Cintailah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu.