Kerendahan Hati

 

Bila Sang Penyelamat datang, Dia akan membarui tubuh kita yang hina, untuk dijadikan serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Tetapi hal ini dibuat-Nya hanya bila Dia menemukan hati kita sudah dibarui dan dijadikan rendah hati seperti hati-Nya sendiri. Karena itu Dia berkata: “Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah-lembut dan rendah hati.”

Sehubungan dengan ini, saya ingin agar engkau memperhatikan, saudara-saudaraku, bahwa ada dua macam kerendahan hati. Yang satu tentang pengetahuan (atau pengertian), yang lain tentang afeksi (atau kehendak). Inilah yang kemudian oleh Kristus disebut kerendahan hati.

Melalui pengertian akan kerendahan hati, kita tahu bahwa kita bukan apa-apa; kita belajar kerendahan hati ini dari diri sendiri dan dari pengalaman akan kelemahan-kelemahan kita. Kehendak atau hati yang rendah hati memampukan kita menginjak-injak  kemuliaan dunia, tetapi ini hanya dapat dipelajari dari Dia yang telah mengosongkan diri-Nya dengan mengambil bentuk seorang hamba, dan yang mempersembahkan diri-Nya dengan bebas, ketika manusia membuat-Nya menderita dengan segala macam kejahatan dan kematian yang memalukan di atas salib… dan yang menanggung siksaan itu untuk mendamaikan para pendosa dengan diri-Nya.