Pertobatan III

 

Akal budi melihat ingatan yang tersumbat dengan hal-hal kotor; tidak mampu menutup jendela-jendela yang terbuka lebar menuju kematian; akal budi sudah mengenal penyakitnya tetapi tidak menemukan obatnya.

Biarkan jiwa dalam keadaan ini mendengarkan suara ilahi, dan dalam kekagumannya akan mendengar suara-Nya, ‘Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, sebab bagi merekalah kerajaan Allah’. Siapakah yang lebih miskin dalam roh selain orang yang tidak menemukan istirahat? Orang yang tidak mencari kesenangan dirinya sendiri berkenan pada Tuhan, dan dia yang membenci rumahnya yang penuh dengan kotoran dan keburukan diundang menuju rumah kemuliaan, suatu rumah yang tidak dibuat dengan tangan manusia, abadi di surga. Tidak mengherankan jika ia bergetar penuh kekaguman karena kehormatan yang demikian besar, dan berkata, ‘Mungkinkah seorang yang penuh keburukan menjadi manusia yang bahagia?’

Siapapun kamu, jika kamu dalam keadaan ini, janganlah berputus asa; belas kasihanlah dan bukan kemalangan yang membuat orang bahagia, tetapi rumah alami belas kasihan adalah kemalangan. Tentu saja kemalangan menjadi sumber kebahagiaannya saat perendahan menjadi kerendahan hati dan kebutuhan menjadi keutamaan. Penyakit sangat berguna ketika penyakit membawa kita ke dalam tangan sang dokter, dan Dia yang adalah Allah memulihkan kesehatannya melalui penyakit itu.