Roh Kudus: Ciuman

 

Biarlah Ia menciumku dengan ciuman mulut-Nya. Apakah kamu ingin melihat mempelai yang baru dipilih menerima ciuman yang belum pernah terjadi sebelum ini, yang diberikan bukan oleh mulut, melainkan oleh ciuman mulut? Maka lihatlah Yesus di hadapan para rasul-Nya: “Ia menghembuskan nafas-Nya ke atas mereka, dan Ia berkata, ‘Terimalah Roh Kudus’.” Anugerah yang diberikan kepada Gereja yang baru dipilih itu, memang merupakan sebuah ciuman. Kamu berkata, “Nafas jasmanikah itu?” Oh bukan, melainkan Roh yang tak terlihat, yang dianugerahkan dalam nafas Tuhan sehingga Ia dipahami berasal dari Dia sama seperti dari Bapa; sungguh, ciuman itu sama bagi Bapa yang mencium, dan bagi Anak yang dicium.

Maka, sang pengantin wanita merasa puas menerima ciuman dari Sang Pengantin Pria, meskipun ia tidak dicium dengan mulut-Nya. Baginya, dicium oleh ciuman itu bukanlah hal yang sepele, karena hal ini tak lain adalah karunia Roh Kudus. Jika Bapa adalah Dia yang mencium, dan Anak adalah Dia yang dicium, maka tidaklah salah untuk melihat Roh Kudus dalam ciuman itu, sebab Ia adalah kedamaian yang tak tergoyahkan dari Bapa dan Anak, ikatan yang tak tergoyahkan, cinta yang tak terbagi, dan kesatuan yang tak terpisahkan.