PEKAN BIASA VIII – SABTU
Ayub, lambang Kristus
Pembacaan dari kumpulan khotbah Santo Zeno dari Verona
Sejauh dapat dimengerti, saudara-saudara terkasih, Ayub itu merupakan lambang Kristus. Perbandingan antara keduanya menunjukkan keadilan. Dan Allah adalah keadilan itu sendiri, sumber yang didatangi semua orang yang teberkati untuk minum, sebab tentang Dia dikatakan, “bagimu akan terbit surya keadilan.” Juga, Ayub itu orang benar. Dan Tuhan adalah kebenaran sejati seperti dikatakan dalam Injil, “Aku ini jalan dan kebenaran dan hidup.”
Ayub itu orang kaya. Tetapi apa ada yang lebih kaya daripada Tuhan? Semua orang kaya itu hamba-Nya! Seluruh dunia dan segala makhluk pun milik-Nya, seperti dikatakan oleh Daud yang suci, ‘Bumi itu kepunyaan Tuhan dengan segala isinya, dunia dengan semua yang diam di sana.” Setan mencobai Ayub tiga kali. Demikian juga diceritakan oleh Penginjil kepada kita: setan mencobai Tuhan. Ayub itu kehilangan segala miliknya. Tuhan pun meninggalkan semua harta-Nya di surga karena cinta kepada kita, dan menjadi miskin untuk membuat kita kaya. Setan mengganas membinasakan anak-anak Ayub. Demikian juga bangsa Farisi yang ganas membunuh para nabi, putra-putra Allah. Ayub dicemari oleh bisul-bisul. Tuhan pun, dengan mengambil daging kita, dicemarkan oleh noda-noda dosa seluruh umat manusia.
Istri Ayub mendorong dia untuk berbuat dosa. Dan sinagoga berusaha sekuat-kuatnya untuk memaksa Tuhan mengikuti peraturan-peraturan leluhur yang sesat. Diceritakan bahwa sahabat-sahabat Ayub datang mengolok-oloknya. Demikian juga Tuhan diolok-olok oleh para imam, dan para penyembah. Ayub duduk di atas kumpulan kotoran hewan penuh cacing. Tuhan duduk di tempat kotoran yang sebenarnya, yaitu di tengah-tengah kekotoran dunia ini. Sebab Tuhan tinggal di antara orang-orang yang membual dengan berbagai macam dosa dan nafsu; mereka merupakan cacing-cacing yang sebenarnya.
Ayub mendapatkan kembali kesehatan dan kekayaannya. Tetapi Tuhan, dengan kebangkitan-Nya, memberikan lebih dari itu kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan tidak hanya memberi kesehatan, Ia bahkan meluputkan dari kematian semua orang yang percaya kepada-Nya, Tuhan kembali menguasai seluruh alam, seperti dinyatakan-Nya sendiri, “Semua diserahkan oleh Bapa kepada-Ku’. Ayub mendapatkan anak-anak lagi, untuk menggantikan yang hilang. Tuhan juga mendapatkan anak-anak suci, para rasul yang menggantikan para nabi. Ayub diberkati, meninggal dalam damai. Tetapi Tuhan, tidak ada kematian bagi Tuhan. Tuhan tetap teberkati selamanya, sebelum segala abad, dari permulaan sampai selama-lamanya.