Kasih

 

Kasih saja cukup. Ia memberi kenikmatan pada dirinya sendiri dan demi dirinya sendiri. Kasih itu jasa dan ganjarannya. Kasih tidak memerlukan penyebab di luar dirinya atau menuntut hasil, kasih itu sendiri sudah menjadi tujuannya. Saya mencintai karena saya mencintai; saya mencintai agar saya dapat mencintai. Kasih adalah realitas agung, dan jika ia kembali ke awalnya dan kembali lagi ke asalnya, untuk mencari sumbernya lagi, ia akan selalu mendapatkan kesegaran dan oleh sebab itu, mengalir dengan bebas.

Kasih adalah satu-satunya yang menggerakkan jiwa, menggerakkan indera dan afeksinya. Di dalamnya, ciptaan dapat menanggapi Penciptanya (meskipun mereka tidak setara) dan dapat membalas kebaikan-Nya dengan cara yang mirip.

Ketika Allah mencintai, ia tidak menginginkan apa-apa kecuali dicintai, karena ia mencintai kita tanpa alasan apa pun kecuali ingin dicintai, karena Dia tahu bahwa mereka yang mencintai menjadi orang yang terberkati karena cinta mereka.