Allah tidak dikasihi tanpa upah, walaupun Ia seharusnya dikasihi tanpa memikirkan upah sama sekali. Kasih sejati tidak mungkin sia-sia, tetapi karena ia tidak mencari keuntungannya sendiri, maka ia tidak bisa disebut sebagai upahan.
Kasih menyangkut kehendak, ia bukan transaksi; ia tidak bisa diperoleh atau dibeli dengan suatu perjanjian. Kasih menggerakkan kita dengan bebas, dan itu membuat kita tulus. Kasih sejati puas dengan dirinya sendiri; ia sudah memiliki upahnya, yaitu Pribadi yang dikasihinya. Apapun yang kelihatannya engkau kasihi karena sesuatu yang lain, sebenarnya tidak engkau kasihi. Engkau seharusnya mengasihi tujuan yang dikejar dan bukan sarana yang dipakai untuk mencapainya.
Kasih sejati mempunyai upahnya sendiri, tetapi ia tidak mencarinya. Upah ditawarkan kepada orang yang belum mengasihi; tetapi upah itu menjadi hak bagi dia yang mengasihi, dan diberikan kepada orang yang bertahan.
Jiwa yang mengasihi Allah tidak mencari upah selain Allah yang mengasihinya. Seandainya jiwa menuntut sesuatu yang lain, maka sudah pasti ia mengasihi sesuatu dan bukan mengasihi Allah.