Karena kita adalah darah dan daging, terlahir dari keinginan daging, maka keinginan atau kasih kita harus dimulai dalam daging, dan jika diarahkan dengan benar, kasih itu akan berkembang oleh rahmat sampai dipenuhi dalam roh.
Mula-mula seseorang mengasihi dirinya demi dirinya sendiri. Ia adalah daging dan hanya mampu mengenal dirinya sendiri. Tetapi jika ia melihat bahwa ia tak dapat bertahan hidup dari dirinya sendiri, ia lalu mulai dengan iman mencari dan mengasihi Allah sebagai sesuatu yang ia butuhkan. Dan dengan demikian pada tahap kedua ia mengasihi Allah, belum demi Allah, tetapi demi dirinya sendiri. Namun ketika karena kebutuhannya ia mulai merenung, membaca, berdoa dan taat, sedikit demi sedikit ia menjadi terbiasa untuk mengenal Allah dan oleh sebab itu semakin menikmati Dia.
Ketika ia telah mengecap dan melihat betapa manisnya Tuhan, ia masuk ke tahap ketiga dimana ia mengasihi Allah demi Allah dan bukan demi dirinya sendiri. Dan di sini ia tinggal, sebab aku menyangsikan apakah ada seorang pun yang pernah mencapai tahap keempat secara penuh dalam hidup ini. Tahap ini adalah, ketika seorang mengasihi dirinya hanya demi Allah.