Kasih

 

Kasih adalah benang emas yang mengikat semua pengajaran St Bernadus, dan sebagaimana ditunjukkan Thomas Merton, kasih bukanlah hanya sesuatu yang cocok diterapkan dalam hidup manusia. Kasih merupakan dasar dan alasan keberadaannya. Manusia tidak sungguh-sungguh hidup sampai ia mulai mengasihi Allah. St Bernardus membicarakan kewajiban kita untuk mengasihi Allah dan Kristus dan apa yang seharusnya menjadi ukuran kasih: pemberian diri yang tidak pernah ditarik kembali – total.

Kasih, katanya, adalah realitas agung yang kembali ke sumbernya, pencarian akan mata air untuk menyegarkannya dan mengalirkannya dengan bebas. Sungguh ini suatu terang budi! Inilah mengapa pertapaan monastik cistersiensis disebut “Sekolah Cinta kasih” (suatu gelanggang Olah Raga didalamnya kita dapat melatih diri dan tumbuh). Karena cinta kasih harus dihidupi dalam iman, dalam kehidupan harian yang keras dan dengan jatuh bangun. Kita tahu dari pengalaman bahwa keinginan kita, kerinduan kita, kasih kita kacau dan tidak mudah dipegang. Kasih kita perlu “ditata”. Jadi kerja keras dalam hidup kita adalah untuk mengarahkan kompas kasih kita kepada Allah dan Ia sendiri yang akan menolong kita untuk memurnikannya.

 

Dalam traktatnya “Kasih akan Allah,” dan dalam suratnya kepada Guy, Prior Kartusian, Bernardus berbicara tentang empat tingkat kasih, yang menunjukkan bahwa kasih dimiliki oleh kodrat manusia – manusia lahir untuk mengasihi – tetapi karena kejatuhannya ia menjadi egois dan karena kehendaknya, ia tetap menjadi seperti itu sepanjang hidupnya.

Kasih menyatukan pencinta kepada apa yang dicintainya. Ini pada akhirnya berkaitan dengan tindakan kehendak yang menginginkan untuk menikmati dan istirahat dalam sesuatu atau seseorang sebagai tujuannya. Tujuan akhir manusia adalah Allah dan jika kita menikmati ciptaan, beristirahat di dalamnya maka dengan cara ini kita menjadi tidak benar dalam kesejatian tindakan kita. Kita dicipta untuk Allah dan jiwa yang mencintai ciptaan dengan cara ini menjadi seperti apa yang dicintai dan tidak serupa dengan diri sejati sehingga tidak seperti Allah.

Dalam Kristus kita melihat kasih dalam kekuatan dan keindahan tertinggi. Dia sungguh mengasihi Bapa-Nya dan kita sedalam-dalamnya dan setinggi-tingginya.