Ketidakserupaan kita
dengan
Allah

 

Fakta bahwa Kitab Suci berbicara tentang ketidakserupaan kita dengan Allah tidak berarti bahwa Kitab Suci menyatakan bahwa keserupaan kita telah dihancurkan, tetapi bahwa sesuatu yang lain telah diselubungkan atasnya, menyembunyikannya. Jelaslah bahwa jiwa bukannya telah menyingkirkan bentuk aslinya, tetapi telah mengenakan suatu bentuk baru yang asing baginya. Bentuk yang asing ini telah ditambahkan, tetapi yang semula tidak hilang, dan meskipun apa yang telah ditambahkan di atasnya telah mengaburkan bentuk asalinya, tambahan ini tak mampu menghancurkannya.

“Bagaimana emas telah menjadi terselubung dan warnanya yang terbaik berubah?” seru Nabi. Ia mengeluh bahwa emas telah kehilangan kecemerlangannya dan bahwa warnanya yang terbaik telah dikaburkan: tetapi emas itu tetaplah emas, dan dasar asli warnanya tidak dihapuskan. Maka kesederhanaan jiwa tetap tidak rusak dalam hakekatnya, tetapi tidak kelihatan sekarang, sebab telah ditutupi oleh kepalsuan tipu daya, kepura-puraan dan kemunafikan manusia.

Apakah mungkin menemukan seorang saja putra Adam yang dapat tahan untuk dikenal sebagaimana adanya? Kendati demikian, dalam setiap jiwa tetaplah tinggal kesederhanaan asali manusia, bersama dengan kepalsuan yang datang dari dosa asal.