NATAL
DI PERTAPAAN

Dalam keheningan malam di lereng Gunung Merbabu, para rubiah Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono sudah memulai puji-pujian dan doa. Bersama seluruh Gereja dan umat kristiani di seluruh dunia, kami berjaga dan mempersiapkan hati untuk menyambut kelahiran Sang Immanuel. Perayaan Ekaristi malam Natal dimulai pada tengah malam diawali dengan “Maklumat Kelahiran Yesus”. Allah masuk dalam waktu dan ruang, menjadi bagian dari keluarga manusia, Yang Abadi masuk dalam yang fana, Yang Mahabesar menjadi bayi yang kecil untuk memulai karya penyelamatan manusia. Instrumen lagu Malam Kudus mengiringi prosesi rubiah yang membopong bayi Yesus untuk diletakkan di palungan di depan altar. Yesus lahir di palungan hati kita masing-masing, seorang Putra hari ini telah lahir, seorang Putra telah dianugerahkan bagi kita, Ia akan disebut Allah Perkasa, Immanuel!

“Ketika segalanya diliputi kesunyian dan malam mencapai puncak peredarannya,
turunlah Sabda-Mu yang Mahakuasa, dari surga, dari singgasana, alleluia”

Dalam homilinya, Romo Mulyatno, Pr menguraikan tentang makna Natal:
Sukacita besar iman kita adalah bahwa Allah menyertai kita-Immanuel. Sukacita yang berasal dari Paskah Kristus, Kristus yang bangkit adalah Kristus yang dilahirkan. Misteri ini terus kita kenangkan dalam setiap perayaan Ekaristi: Allah yang memberikan diri seutuhnya kepada manusia, Allah yang mengasihi manusia sampai kesudahannya.

menjadi manusia sepenuhnya, mengalami keadaan manusia seutuh-utuhnya. Allah merendahkan diri- Ia menjemput manusia dengan mengambil keadaan manusia, setara dengan manusia. Allah adalah Bapa kami maka semua orang adalah saudara kami.

 

Allah Bapa Yang Maharahim,
kami bersyukur karena Kauperkenankan merayakan kelahiran Putra-Mu.
Kami mohon dengan rendah hati,
lahirkanlah kembali Putra-Mu di dalam diri kami
dan di tengah masyarakat kami,
agar kami semakin menghayati penyertaan-Mu atas hidup kami.
Amin.

Selamat Natal 2025