PESTA
KELUARGA KUDUS

Hari Minggu dalam oktaf Natal, Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Patung-patung Keluarga Kudus yang diletakkan di depan pintu masuk Gereja kami, membantu kami untuk semakin mendalam arti pesta ini. Keindahan seni dapat mengantar kita untuk mengkontemplasikan misteri iman karena kita dapat  memandangnya, menyentuhnya, dan mencecap maknanya. Yesus yang lahir sebagai manusia dibesarkan oleh Maria dan Yusuf, Yesus diasuh, dibesarkan, dan dirawat dalam keluarga manusia. Apakah artinya Allah menjadi putra manusia? Artinya Allah menjadi bayi yang tergantung sepenuhnya kepada orang tuanya. Tergantung sepenuhnya karena bayi sama sekali tidak bisa apa-apa, belum bisa bicara untuk meminta sesuatu, mengungkapkan diri, belum bisa berjalan sendiri, melakukan sesuatu sendiri. Seorang bayi hanya bisa berada untuk dicintai, berada dalam kebutuhan relasi, seorang bayi menjadi kehadiran yang sangat nyata akan kemanusiaan yang benar.

Allah menjadi manusia, memulai hidup-Nya sebagai seorang bayi, pertama-tama untuk menyadarkan seluruh umat manusia akan kemanusiaannya yang sejati. Dalam segalanya, menyadarkan manusia akan kasih Allah yang nyata. Allah Yang Mahakuasa harus belajar sebagai manusia, dari manusia, untuk manusia. Dia belajar bagaimana berelasi dengan dan bersama manusia, cinta-Nya yang berani menanggung segala resiko, maka Dia berani mempercayakan diri secara total untuk dilindungi, dirawat, diajari oleh manusia, oleh ciptaan-Nya sendiri. Betapa mengagumkan perendahan diri Allah! Perendahan diri yang mengungkapkan cinta-Nya kepada manusia.

Dalam keluarga kudus Nazaret, Yesus adalah pusat. Yesus adalah segalanya, yang paling berharga untuk dilindungi, untuk dijaga, diperhatikan dengan seluruh hidup mereka. Bunda Maria belajar hidup dan berelasi dengan Yesus Putranya, memperhatikan pertumbuhan-Nya, kebutuhan-Nya, dan melimpahi dengan cinta kasih. Bunda Maria merenungkan setiap peristiwa dan menyimpannya dalam hati. Dia menghayati iman, harapan, dan kasih secara sempurna, dialah Putri Allah Bapa, Bunda Allah Putra, dan Mempelai Roh Kudus.

Marilah kita belajar dari St. Yosef, seorang yang biasa, sederhana, punya iman kuat karena mencintai. Yosef seorang yang hening karena mau mendengarkan suara Tuhan daripada mendengarkan suaranya sendiri. Keheningan St. Yosef adalah relasinya dengan Yesus dan Maria.

Ya Allah,
Kami bersyukur atas kehadiran-Mu di tengah-tengah kami.
Dialah Sabda-Mu yang menjelma menjadi manusia,
lahir dari rahim Perawan Maria
dan tumbuh berkembang dalam Keluarga Kudus Nazaret.
Semoga dalam perayaan ini,
Engkau melimpahkan berkat-Mu kepada keluarga kami
sehingga kami hidup rukun dan damai dalam semangat kasih.
Amin.