Jika seseorang mau mengenal kebenaran yang penuh mengenai dirinya sendiri, maka ia harus menyingkirkan balok kesombongan yang menghalangi cahaya dari matanya, lalu membangun tangga kerendahan hati di dalam hatinya, sehingga ia dapat memeriksa batinnya sendiri. Ketika ia telah melihat kebenaran mengenai dirinya sendiri, atau dengan kata lain, ketika seseorang telah melihat dirinya sendiri dalam kebenaran, maka orang tersebut telah mencapai hatinya yang terdalam.
Hingga saat ini ia telah menguji dirinya sendiri. Kini ia memandang keluar dari dirinya kepada orang lain, dan berseru, ”Semua orang pendusta.” Apa yang ia maksud? Maksudnya ialah bahwa setiap orang tidak dapat diandalkan karena terlalu lemah, tidak berdaya, dan cacat, untuk menyelamatkan dirinya sendiri atau orang lain.
Ini begitu berbeda dari kebohongan orang Farisi yang angkuh. Ia mengutuki orang lain kecuali dirinya sendiri, dan menganggap orang lain bodoh kecuali dirinya sendiri. Pemazmur berbelaskasih kepada orang lain karena ia mengalami belas kasih juga. Orang Farisi mengesampingkan belas kasih ketika ia menyangkal kemalangannya sendiri. Karena dalam terang Kebenaran, manusia mengenali dirinya sendiri dan mereka tersipu malu ketika memandang apa yang ada dalam dirinya. Mereka mengakui bahwa untuk memperbaiki hal tersebut, melampaui kekuatan mereka, maka mereka memandang melampaui kebutuhan mereka kepada kebutuhan sesama dan dari apa yang telah mereka derita, mereka belajar berbela rasa.