Pagi itu 7 Januari pukul 10.45 lonceng pertapaan berbunyi dengan nyaring dan meriah, kegembiraan memecah kesunyian. Para Suster segera bergegas menuju ke samping Gereja…. penantian telah berakhir, kerinduan telah terpenuhi. Ya, kami menantikan kedatangan Bapak Abas Jendral Ordo, Dom Bernadus Peeters, OCSO yang didampingi sekretarisnya Frater Cassant, OCSO. Pelukan hangat dari setiap suster yang datang, lambaian bendera merah putih kecil, spanduk “welcome”, dan lagu selamat datang susul-menyusul mewarnai suasana siang itu.


Abas Jendral sangat bahagia berada di tengah-tengah komunitas, beliau mengatakan, “Seperti pulang ke rumah…“. Dom Bernardus memang sering berkunjung ke komunitas kami sebelum menjadi Abas Jendral. Beliau sebelumnya adalah Abas Biara Koningshoeven – Tilburg Belanda, Bapa Immediatus dari Pertapaan Rawaseneng. Pertapaan Rawaseneng adalah Bapa Immediatus dari Pertapaan Gedono, jadi kami masih satu “keluarga”. Ada suatu ikatan erat telah terjalin sejak lama.
Kunjungan Abas Jendral kepada komunitas-komunitas Ordo di seluruh dunia ini bertujuan untuk makin mengenal komunitas dengan segala dinamika, harapan, dan kesulitan yang ada. Keberadaan setiap komunitas di seluruh dunia memiliki kekhasannya yang saling melengkapi dan memperkaya Ordo. Abas Jendral bersama kami dari tanggal 7 – 11 Januari 2026.
Acara harian komunitas disesuaikan supaya kehadiran Dom Bernadus sungguh membawa rahmat bagi kami semua. Selain pertemuan dengan seluruh anggota komunitas, Bapak Abas Jendral juga berjumpa dengan semua kelompok generasi para suster, termasuk para suster yang sudah mendahului ke surga dengan mengunjungi makam. Kebersamaan dalam konferensi, diskusi, dan juga dalam perayaan Ekaristi dan ofisi sungguh memberi inspirasi, menantang, dan memberi makanan spiritual yang padat. Kehadirannya sebagai “Bapak” yang mendengarkan dan berpandangan jauh dan luas dalam melihat situasi Ordo saat ini, sungguh membantu kami untuk makin mengenal dan mencintai Ordo.

Dalam salah satu pertemuan dengan komunitas, Abas Jendral mengatakan: “Saya melihat tanda-tanda harapan dalam Ordo, ada banyak hal-hal indah, tapi bukan berarti tidak ada kesulitan-kesulitan dalam komunitas. Kita perlu lebih menekankan hal-hal yang baik dan positif untuk terus hidup dan memperoleh kekuatan untuk menghadapi hal-hal yang buruk”.
Tanda-tanda harapan dalam Ordo itu adalah:
- bertumbuhnya kapasitas kolaborasi di dalam dan antar komunitas
- kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan dan kesulitan yang dialami dalam komunitas –
- keterbukaan untuk meminta dan menerima bantuan dari Ordo
- penggabungan pertapaan-pertapaan di Irlandia
- kolaborasi ekonomi dalam pertapaan-pertapaan di Perancis
- meningkatnya peran rubiah dalam Ordo
- tumbuhnya fundasi-fundasi baru.
Memang ada pertapaan-pertapaan yang ditutup karena anggotanya semakin menua dan tidak adanya panggilan yang masuk, tetapi itu dilakukan setelah melalui proses yang panjang dan bantuan sudah diupayakan semaksimal mungkin.

Komunitas juga mengundang SSCG untuk berpartisipasi dalam pertemuan dengan Abas Jendral. Siapakah SSCG? Mereka adalah Sahabat-Sahabat Cisterciensis Gedono, kaum awam yang mempunyai komitmen untuk menghayati kharisma Cisterciensis dalam kehidupan sehari-hari. SSCG sudah menjadi bagian dari komunitas, baik dalam pertemuan berkala, ikut serta dalam liturgi maupun dalam aksi sosial. Dalam pertemuan ini, Dom Bernadus berbagi tentang pencarian dan penemuannya tentang identitas Cisterciensis. Identitas yang bukan dibuatnya sendiri, melainkan yang ia terima dari generasi-generasi sebelumnya. Suatu hidup yang mengikuti Injil, Kitab Suci, teladan Bapa-bapa Ordo, Magisterium Gereja, berdasarkan Peraturan St. Benediktus dan Konstitusi Ordo. Suatu hidup yang diresapi oleh pengalaman akan Allah Yang Hidup, yang dicuci bersih dengan Sabda, serta hidup di dalam suatu komunitas dalam keheningan, kesederhanaan, dan solidaritas.


Pada hari terakhir kebersamaan kami dengan Dom Bernadus dan Frater Cassant, komunitas mengadakan pesta sederhana sebagai ungkapan syukur dan terima kasih. Acara diisi dengan tarian oleh kaum muda komunitas kami yang mengungkapkan semangat kolaborasi dan solidaritas dalam menghadapi kerapuhan. Tarian juga mengungkapkan suka cita dan perjuangan dalam menghayati panggilan hidup monastik dan harapan pada Kristus Yesus. Semoga Dia mengantar kita semua sampai pada hidup kekal. Amin.
Terimakasih Dom Bernardus dan Frater Cassant atas kehadirannya di tengah-tengah kami. May God bless you, may God bless you, until we meet again…